— Jakarta – Pertemuan antara Republik Irlandia dan Israel dalam jeda internasional UEFA Nations League diprediksi akan berlangsung panas, tidak hanya di atas lapangan, tetapi juga di luar lapangan akibat tensi politik yang menyertainya.

Kedua tim akan saling berhadapan sebanyak dua kali. Pertandingan pertama dijadwalkan pada 28 September, di mana Israel akan bertindak sebagai tuan rumah, diikuti oleh pertemuan kedua di kandang Irlandia pada 5 Oktober.

Baik Irlandia maupun Israel tergabung dalam Grup G di ajang UEFA Nations League. Namun, isu yang lebih mendalam membayangi pertemuan ini, mengingat sikap Irlandia yang telah lama mengecam tindakan Israel terhadap Palestina.

Republik Irlandia dikenal sebagai salah satu negara yang vokal menyuarakan keprihatinan atas isu penindasan Palestina oleh Israel. Sikap ini juga tercermin dari pernyataan pelatih timnas Irlandia, Heimir Hallgrimsson.

“Kami tidak bermain dengan genosida, kami berjuang melawan genosida,” ujar Hallgrimsson, seperti dilansir dari ESPN. Ia menambahkan, “Kami bermain melawan Israel, bukan bermain bersama mereka.”

Pernyataan tersebut disambut dengan respons keras dari Federasi Sepak Bola Israel (Israel FA). Melalui media sosial, mereka menyebut ucapan Hallgrimsson sebagai bentuk kebodohan.

“Kami telah berkontribusi bagi dunia dan umat manusia di berbagai bidang yang tak terhitung jumlahnya, serta meraih sejumlah besar Penghargaan Nobel sepanjang perjalanan tersebut,” tulis Israel FA. “Sayangnya, kami belum menemukan obat untuk kebodohan, ketidaktahuan, dan kemunafikan yang ditunjukkan oleh pelatih tim Republik Irlandia. Kami bertanding melawan pelatih yang mencerminkan semua hal tersebut.”

Laga perdana antara kedua tim akan digelar di Stadion Nagyerdi di Hungaria, yang akan menjadi kandang sementara bagi timnas Israel. Situasi ini semakin memperkuat dugaan bahwa pertandingan nanti akan berjalan dalam suasana yang sangat tegang.