— Erling Haaland menyadari perhatian yang tertuju pada minimnya keterlibatan dirinya dengan bola, bahkan saat Manchester City mendominasi pertandingan. Namun, penyerang asal Norwegia itu justru mempertanyakan relevansi hal tersebut jika tidak berujung pada efektivitas.

Haaland menjadi aktor penting dalam kemenangan Manchester City atas rival sekotanya, Manchester United, di Old Trafford pada Minggu (13/9/2026) malam WIB. Gol tunggalnya pada menit ke-60 menjadi penentu kemenangan timnya dalam laga derby yang sarat drama dan kontroversi.

Sejak awal pertandingan, Manchester City memang tampak lebih mendominasi penguasaan bola. Namun, situasi berubah drastis setelah Phil Foden diganjar kartu merah pada menit ke-23, yang memaksa timnya bermain dengan sepuluh orang.

Bahkan sebelum kartu merah tersebut dikeluarkan, Haaland tercatat hanya melakukan sedikit sentuhan. Dalam 20 menit pertama, ia hanya menyentuh bola dua kali, dan jumlahnya bertambah menjadi sepuluh kali sebelum jeda babak pertama. Secara keseluruhan, ia hanya mencatatkan 30 sentuhan bola sepanjang laga.

Meskipun bermain dengan sepuluh orang memberikan konteks tersendiri, Haaland menyadari bahwa minimnya keterlibatannya dengan bola bisa menjadi sorotan, bahkan ketika timnya masih bermain dengan kekuatan penuh.

“Sudah tugas saya untuk mencetak gol, jujur saja. Orang-orang mungkin membicarakan soal saya jarang memegang bola di babak pertama, tapi ya tidak apa-apa,” ujar Haaland kepada BBC.

Ia melanjutkan, “Saya tidak memegang bola pada 20 menit pertama, tapi buat apa juga? Saya tidak ada pekerjaan juga. Itu permainan yang menuntut kesabaran dan saya harus menunggu momen yang tepat.”

Haaland menegaskan bahwa ia tidak merasa harus sering menyentuh bola, terutama saat timnya sedang menguasai jalannya pertandingan. Baginya, yang terpenting adalah setiap sentuhan yang ia lakukan berujung pada sesuatu yang krusial dan efektif. “Saya berhasil melakukannya dan saya senang,” tutupnya.