— JAKARTA – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berpotensi berlangsung lama dan mengganggu penerbangan dapat memicu gelombang pembatalan perjalanan atau cancellation. Kondisi ini dikhawatirkan akan mengganggu momentum pertumbuhan okupansi industri perhotelan, khususnya menjelang kuartal III dan IV tahun ini.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menjelaskan bahwa kuartal III dan IV merupakan periode krusial bagi sektor akomodasi. Periode ini biasanya menjadi penentu utama pertumbuhan tahunan sektor tersebut, ditandai dengan peningkatan aktivitas pariwisata, perjalanan bisnis, liburan sekolah, kedatangan wisatawan mancanegara, serta kegiatan korporasi dan pemerintah.

“Selain adanya liburan sekolah dan peningkatan wisatawan mancanegara, kegiatan korporasi juga cenderung meningkat pada kuartal III dan IV. Aktivitas pemerintah yang mulai meningkat sejak kuartal II juga biasanya berlanjut hingga kuartal IV,” terang Maulana kepada Investor Daily pada Selasa (8/9/2026).

Oleh karena itu, PHRI berharap erupsi Gunung Anak Krakatau tidak berlangsung berkepanjangan dan tidak kembali menimbulkan gangguan pada jadwal penerbangan. “Kita berharap ini tidak terjadi lagi,” kata Maulana.

Maulana menerangkan, dampak erupsi terhadap sektor pariwisata belum memberikan tekanan signifikan terhadap industri perhotelan karena penutupan bandara yang terjadi hanya berlangsung sekitar dua hari. “Belum bisa dikatakan signifikan karena kejadiannya baru berlangsung beberapa hari. Mudah-mudahan tidak berlanjut dalam waktu panjang,” ujarnya.

Dampak utama terhadap industri hotel terutama muncul dari terganggunya mobilitas wisatawan. Penutupan bandara dapat berujung pada pembatalan perjalanan, pemendekan masa liburan, hingga terpaksa memperpanjang masa tinggal karena tidak dapat kembali ke daerah asal.

Lebih lanjut, Maulana menjelaskan bahwa gangguan penerbangan tidak hanya dirasakan oleh hotel di sekitar Jakarta atau Lampung. Penutupan Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) berpotensi memberikan efek yang lebih luas karena bandara tersebut merupakan salah satu hub penerbangan terbesar di Indonesia.

“Bandara Soetta itu memang benar-benar bandara yang merupakan hub terbesar yang menyebarkan ke mana-mana. Jadi efeknya akan sulit di sana,” kata dia, merujuk pada pentingnya konektivitas penerbangan untuk perjalanan menuju daerah yang jauh dari Jakarta dan tidak dapat ditempuh melalui transportasi darat.

Maulana menambahkan, dampak terhadap pariwisata juga berpotensi meluas karena Jakarta menjadi salah satu pintu masuk utama bagi wisatawan mancanegara. Terganggunya penerbangan dapat memengaruhi mobilitas baik wisatawan domestik maupun internasional.

Meskipun demikian, pelaku usaha dinilai masih dapat mengantisipasi sebagian dampak dengan beralih ke moda transportasi alternatif. Untuk tujuan Pulau Jawa, perjalanan masih bisa dialihkan melalui transportasi darat. Hal serupa juga berlaku untuk perjalanan ke Lampung melalui jalur darat dan penyeberangan kapal feri. Namun, alternatif tersebut tidak dapat sepenuhnya menggantikan penerbangan untuk destinasi yang lebih jauh.

Hingga kini, PHRI belum memiliki data pasti mengenai nilai kerugian yang ditimbulkan akibat gangguan erupsi Gunung Anak Krakatau. Pihaknya masih melakukan pendataan di berbagai daerah. “Kalau dampak kerugiannya memang kita belum mendata. Namun, di beberapa wilayah tentu sedikit banyak ada dampak terhadap okupansinya,” ujar Maulana.

Okupansi Tunjukkan Pertumbuhan

Maulana mengungkapkan bahwa kondisi okupansi hotel saat ini menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Meskipun belum melampaui capaian pada 2024, tingkat okupansi pada 2026 dinilai sudah lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan okupansi ini belum serta-merta berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan hotel.

Struktur pendapatan hotel tidak hanya bergantung pada tingkat hunian kamar. Pendapatan dari food and beverage (F&B), khususnya yang berasal dari kegiatan meeting dan konvensi, juga merupakan sumber pendapatan penting. “Revenue tidak sejalan dengan pertumbuhan okupansi,” kata Maulana.

Banyak hotel saat ini mengandalkan konsep hotel and convention dengan function room sebagai salah satu sumber pendapatan utama. Oleh karena itu, penurunan aktivitas meeting, incentive, convention and exhibition (MICE) dapat menekan pendapatan, meskipun tingkat okupansi kamar terus tumbuh.

Kondisi ini terlihat ketika aktivitas pemerintah mengalami efisiensi pada 2025, yang berimbas pada penurunan aktivitas MICE. Hal ini menyebabkan pertumbuhan okupansi tidak sepenuhnya mampu mendongkrak pendapatan hotel. “Okupansi masih ada tumbuh, tapi secara revenue belum bisa mendongkrak melebihi tahun 2025 atau 2024,” ujar Maulana.

Dengan demikian, dampak erupsi Anak Krakatau sejauh ini masih relatif terbatas terhadap industri perhotelan. Namun, pelaku usaha tetap perlu mewaspadai apabila gangguan transportasi udara kembali terjadi atau berlangsung lebih lama. Persoalan utama bagi industri hotel bukan hanya dampak langsung erupsi terhadap destinasi wisata di sekitar Gunung Anak Krakatau, melainkan potensi efek berantai dari terganggunya konektivitas udara nasional.

Pemulihan konektivitas udara menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan pariwisata dan okupansi hotel hingga akhir tahun. “Karena itu, pemulihan konektivitas udara menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan pariwisata dan okupansi hotel hingga akhir tahun,” terang Maulana.

Dampak Luas pada Aktivitas Ekonomi

Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno menambahkan, erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi memengaruhi perjalanan wisatawan, baik masyarakat Indonesia yang hendak bepergian ke luar negeri maupun warga negara Indonesia yang sedang dalam perjalanan kembali ke Tanah Air.

Dampak terhadap perjalanan tidak hanya sebatas perubahan atau pembatalan jadwal penerbangan. Wisatawan juga berpotensi menghadapi kerugian materiil akibat berbagai komponen perjalanan yang telah dipesan sebelumnya, seperti biaya akomodasi, atraksi wisata, tiket pesawat domestik, transportasi, serta layanan di negara tujuan yang belum tentu dapat dikembalikan atau mendapatkan refund.

“Komponen tersebut antara lain biaya akomodasi, atraksi wisata, tiket pesawat domestik, transportasi, maupun berbagai layanan perjalanan di negara tujuan yang belum tentu dapat dikembalikan atau mendapatkan refund,” jelas Pauline.

Wisatawan yang rencana perjalanannya terganggu harus melakukan penyesuaian yang dapat menimbulkan biaya tambahan, mengingat sebagian layanan yang telah dipesan belum tentu dapat dibatalkan tanpa biaya. Gangguan ini bisa semakin kompleks bagi wisatawan dengan rangkaian perjalanan yang jadwalnya saling berkaitan.

“Perubahan jadwal penerbangan pada satu titik dapat memengaruhi jadwal penerbangan lanjutan, hotel, transportasi, maupun aktivitas wisata yang sudah dipesan,” papar Pauline.

Sementara itu, masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri dan terdampak gangguan penerbangan juga dapat menghadapi beban biaya tambahan. Mereka bisa terpaksa memperpanjang masa tinggal di hotel, membeli makanan tambahan, hingga membeli pakaian dan kebutuhan lainnya selama menunggu kepastian perjalanan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa gangguan konektivitas dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. “Tidak hanya maskapai dan agen perjalanan yang terdampak, wisatawan juga dapat menanggung biaya tambahan ketika perjalanan tidak dapat dilanjutkan sesuai rencana,” terang Pauline.