Jurnal Indonesia — JAKARTA – Pemilik kapal cepat yang membawa lima jurnalis untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, Sandi Wiasa, menyatakan bahwa kapal yang digunakan dalam kondisi layak berlayar. Kapal tersebut bertolak dari Dermaga Pegedongan, Carita, Banten, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB.
Menurut Sandi, perairan saat kapal berangkat tergolong normal dan kapal membawa delapan orang, sesuai dengan kapasitas yang ada. Ia menegaskan bahwa kapal dilengkapi dengan dokumen perizinan yang lengkap serta jaket pelampung. “Kapal yang dipergunakan adalah kapal saya, itu berangkat kemarin sekitar jam 14.00 WIB lebih dari Dermaga Pegedongan,” kata Sandi.
Ia menambahkan, “Masih layak. Kapal layak untuk jalan.” Sandi juga memastikan kelengkapan lainnya, “Untuk kelengkapan, untuk perizinan kita ada, surat-surat kapal kita ada, terus life jacket ada, Pak.” Informasi mengenai kapal yang hilang kontak pertama kali ia terima dari Kapolsek Carita, bukan langsung dari nakhoda.
Kapal tersebut diketahui memiliki perangkat global positioning system (GPS) portabel. Namun, Sandi mengaku tidak mengetahui apakah perangkat tersebut dapat digunakan untuk melacak posisi kapal. Setelah mengetahui kapal hilang kontak, Sandi berinisiatif menghubungi kerabat di wilayah Pulau Sebesi, Lampung, serta berkoordinasi dengan Basarnas untuk membantu pencarian.
“Ya, saya sudah menghubungi beberapa saudara-saudara kita yang ada di wilayah Sebesi, Lampung. Alhamdulillah sekarang juga sedang berusaha untuk membantu pencarian dengan nelayan-nelayannya,” ungkapnya.
Perjalanan dari Carita menuju kawasan Krakatau biasanya memakan waktu sekitar dua jam. Sandi membenarkan bahwa pemandu dalam rombongan sempat mengirimkan foto kondisi Gunung Anak Krakatau kepada istrinya sekitar empat jam setelah kapal bertolak. Foto tersebut memperlihatkan kondisi gunung dengan jelas, dan posisi kapal saat itu diperkirakan berada lebih dari tiga kilometer dari kawah.
Kantor SAR Banten melaporkan bahwa speedboat tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9) pukul 14.00 WIB. Komunikasi terakhir tercatat korban sempat mengirimkan lokasi melalui fitur berbagi kepada rekan jurnalis di Lampung pada pukul 14.42 WIB, sebelum akhirnya hilang kontak pada pukul 15.04 WIB di titik koordinat duga 6°14’40.52″S 105°40’49.48″T.
Hingga pukul 18.15 WIB, tim operasi pencarian yang diterjunkan telah menjangkau hingga Pulau Krakatau dan Pulau Panjang namun belum membuahkan hasil. Operasi pencarian direncanakan berlanjut pada Rabu (9/9) pagi dengan perluasan area pencarian. Kantor SAR Banten mengerahkan KN SAR Tatuka dan RIB Banten, yang dilengkapi peralatan SAR air, medis, dan komunikasi, bekerja sama dengan Polairud Polda Banten.
Data sementara Basarnas mencatat ada delapan orang yang masuk dalam daftar pencarian (DP), meliputi pewarta foto M Bagus Khoirunnas (Antara), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), Donal (pewarta lepas), kapten kapal, ABK, dan seorang pemandu (guide).
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.