— JAKARTA – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terus terpantau. Pada Rabu dini hari, gunung berapi aktif ini kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkaniknya. Untuk mendapatkan gambaran terkini, sejumlah instansi terkait melakukan pemantauan langsung dari atas kapal KRI Lepu-861 milik TNI AL.

Pemantauan visual dari laut ini dilakukan pada Rabu (9/9/2026) pukul 10.00 WIB. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Lampung, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, perwakilan BPBD Provinsi Lampung, Basarnas, serta Institut Teknologi Sumatera (ITERA) turut serta dalam observasi ini. Pemantauan dilakukan dengan mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau menggunakan KRI Lepu-861, dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan dan situasi aktivitas vulkanik sesuai Standard Operating Procedure (SOP) yang berlaku.

BPBD Lampung menyatakan bahwa pemantauan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kondisi terkini Gunung Anak Krakatau sekaligus memperkuat koordinasi antarinstansi dalam mitigasi aktivitas vulkanik. Laporan dari lapangan menunjukkan masih terlihatnya abu vulkanik dan asap yang mengepul dari gunung tersebut.

Dalam video yang diunggah oleh BPBD Provinsi Lampung, petugas bernama Wahyu Hidayat melaporkan pengamatannya langsung dari KRI Lepu. “Dari KRI Lepu, mendekati Gunung Anak Krakatau. Erupsi awan masih kita lihat dan itu abu vulkanik yang kecokelatan. Ini lah Gunung Anak Krakatau yang beberapa hari belakangan mengalami erupsi, saya melaporkan dari KRI Lepu. Demikian kondisi Gunung Anak Krakatau teramati mengeluarkan abu tipis dan asap, semoga kita jauh dari bencana,” ujar Wahyu Hidayat.

Berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9 dan pengamatan langsung, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih teramati dengan adanya asap dan abu vulkanik. Sebaran debu vulkanik teridentifikasi dari permukaan hingga ketinggian sekitar 7.000 kaki atau 2,1 kilometer. Abu vulkanik tersebut dilaporkan bergerak ke arah barat laut, meliputi sebagian wilayah Teluk Lampung.

BPBD Lampung menegaskan bahwa pemantauan dan koordinasi lintas instansi akan terus dilakukan. Upaya ini penting untuk memastikan informasi mengenai kondisi Gunung Anak Krakatau selalu aktual dan dapat menjadi dasar kewaspadaan bagi masyarakat.

Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau dilaporkan kembali erupsi pada Rabu, 9 September 2026, pukul 00:47 WIB. Erupsi tersebut tercatat memiliki durasi 28 detik dengan tinggi kolom erupsi yang tidak teramati. PVMBG mencatat amplitudo maksimum gempa letusan mencapai 51 Mm.

Data kegempaan menunjukkan aktivitas Gunung Anak Krakatau meliputi 1 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 51 Mm dan durasi 28 detik. Selain itu, tercatat pula 1 kali gempa low frequency (amplitudo 16 Mm, durasi 6 detik), 1 kali gempa hybrid/fase banyak (amplitudo 26 Mm, lama gempa 4 detik), serta 1 kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 2-7 Mm (dominan 3 Mm).