Jurnal Indonesia — JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi memberikan tekanan terhadap aktivitas ekonomi nasional, terutama melalui gangguan konektivitas transportasi dan distribusi barang. Dunia usaha diminta mulai menyiapkan jalur serta moda transportasi alternatif.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, gangguan pada konektivitas transportasi dapat memberikan efek berantai terhadap kegiatan usaha. Semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar pula potensi tambahan biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan. “Biaya tersebut tidak hanya muncul akibat perubahan jalur distribusi secara langsung, tetapi juga dapat berasal dari berbagai dampak lanjutan terhadap operasional perusahaan,” ucap dia.
Biaya langsung, misalnya, dapat muncul karena perusahaan harus menggunakan moda transportasi alternatif, membayar biaya penanganan atau handling tambahan, hingga menyediakan tempat penyimpanan barang apabila distribusi tidak dapat berjalan sesuai jadwal. Sementara itu, biaya tidak langsung dapat muncul dalam bentuk tambahan lead time, peningkatan kebutuhan safety stock, penyesuaian proses produksi, hingga keterlambatan pemenuhan pesanan kepada pelanggan. Shinta mengatakan, dampak erupsi terhadap dunia usaha tidak hanya diukur dari apakah barang dapat dikirim atau tidak, tetapi juga dari seberapa besar penyesuaian yang harus dilakukan perusahaan agar kegiatan operasional tetap berjalan.
Dua Sisi Risiko Logistik
Shinta menekankan, dunia usaha perlu melihat risiko dari dua sisi, yakni kelancaran pengiriman barang jadi dan ketersediaan input produksi. Gangguan distribusi bahan baku maupun komponen dapat memberikan tekanan langsung terhadap proses produksi. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian khusus bagi perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan bahan baku atau komponen dari wilayah tertentu. Ketika jalur distribusi utama mengalami gangguan, perusahaan harus segera menentukan apakah pengiriman masih dapat dilakukan melalui rute yang sama atau perlu dialihkan.
Namun, dia menegaskan bahwa keberlangsungan usaha tetap harus dimulai dari perlindungan terhadap pekerja. “Perusahaan juga perlu memiliki prosedur komunikasi dan respons darurat yang jelas. Dengan demikian, pekerja mengetahui langkah yang harus dilakukan apabila kondisi di sekitar lokasi kerja memburuk,” jelas Shinta.
Di sisi lain, kebutuhan dunia usaha terhadap informasi yang cepat dan akurat menjadi semakin penting. Dia meminta pemerintah menyediakan informasi yang terintegrasi mengenai perkembangan aktivitas vulkanik, kondisi penerbangan, cuaca dan sebaran abu, serta perkembangan operasional jalur dan moda transportasi alternatif. Informasi yang terintegrasi akan membantu perusahaan mengambil keputusan secara lebih cepat, apakah distribusi tetap dilakukan melalui jalur yang biasa digunakan atau harus dialihkan ke rute maupun moda lainnya. Kepastian informasi juga diperlukan untuk menghindari keputusan yang terlalu lambat maupun penyesuaian yang tidak diperlukan.
Tekanan pada Sektor Perjalanan Wisata
Potensi gangguan konektivitas juga menjadi perhatian sektor perjalanan. Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno mengatakan, erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi memengaruhi perjalanan wisatawan, baik masyarakat Indonesia yang hendak bepergian ke luar negeri maupun warga negara Indonesia yang sedang dalam perjalanan kembali ke Tanah Air. “Erupsi Anak Krakatau pastinya berdampak terhadap tamu-tamu travel agent juga masyarakat,” ujar dia.
Dampak terhadap perjalanan tidak hanya berkaitan dengan perubahan atau pembatalan jadwal penerbangan. Wisatawan juga berpotensi menghadapi kerugian materiil akibat berbagai komponen perjalanan yang telah dipesan sebelumnya. “Komponen tersebut antara lain biaya akomodasi, atraksi wisata, tiket pesawat domestik, transportasi, maupun berbagai layanan perjalanan di negara tujuan yang belum tentu dapat dikembalikan atau mendapatkan refund,” jelas Pauline.
Dia menjelaskan, wisatawan yang rencana perjalanannya terganggu harus melakukan penyesuaian terhadap berbagai komponen perjalanan. Kondisi tersebut dapat menimbulkan biaya tambahan karena sebagian layanan yang telah dipesan belum tentu dapat dibatalkan tanpa biaya. Gangguan tersebut dapat semakin kompleks bagi wisatawan yang telah memiliki rangkaian perjalanan dengan jadwal yang saling berkaitan. Perubahan jadwal penerbangan pada satu titik dapat memengaruhi jadwal penerbangan lanjutan, hotel, transportasi, maupun aktivitas wisata yang sudah dipesan.
Sementara itu, masyarakat Indonesia yang sedang berada di luar negeri dan terdampak gangguan penerbangan juga dapat menghadapi beban biaya tambahan. Mereka dapat terpaksa memperpanjang masa tinggal di hotel, membeli makanan tambahan, hingga membeli pakaian dan kebutuhan lainnya selama menunggu kepastian perjalanan. “Selain terkatung-katung di negara orang, mereka harus membeli ekstra pakaian, stay di hotel, makan dan lain-lain,” kata Pauline. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gangguan konektivitas dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Tidak hanya maskapai dan agen perjalanan yang terdampak, wisatawan juga dapat menanggung biaya tambahan ketika perjalanan tidak dapat dilanjutkan sesuai rencana.
Belum Ada Perhitungan Kerugian
Meski potensi dampak ekonomi mulai menjadi perhatian, Apindo menilai masih terlalu dini untuk memperkirakan besaran kerugian akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. “Pasalnya, dampak terhadap aktivitas ekonomi akan sangat bergantung pada durasi dan cakupan gangguan, sektor usaha yang terdampak, serta ketersediaan alternatif rute dan moda transportasi,” kata Shinta.
Menurut dia, kondisi saat ini masih membutuhkan pemantauan. Karena itu, dunia usaha perlu menghindari respons yang berlebihan, tetapi pada saat yang sama tidak boleh mengabaikan potensi risiko yang muncul. Shinta menekankan bahwa prioritas saat ini adalah memastikan keselamatan masyarakat dan pekerja sekaligus memastikan langkah-langkah mitigasi dapat berjalan dengan baik. Mitigasi sejak dini menjadi penting untuk menjaga agar gangguan tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih besar terhadap aktivitas ekonomi.
Sementara itu, Pauline juga mengatakan pihaknya belum menghitung potensi total kerugian ekonomi karena situasi masih berkembang dan besarnya dampak belum dapat dipastikan. Saat ini, Astindo masih membantu pelanggan menyusun ulang perjalanan yang terdampak, sesuai dengan kondisi penerbangan dan kebijakan masing-masing penyedia layanan perjalanan.
Dia menyoroti tantangan dalam proses pembatalan atau perubahan pemesanan layanan perjalanan di luar negeri. Tidak semua penyedia layanan memahami kondisi yang terjadi di Indonesia, sehingga tidak otomatis memberikan fleksibilitas dalam proses pembatalan. Kondisi tersebut terutama menjadi persoalan ketika wisatawan menggunakan akomodasi yang memiliki kebijakan pembatalan ketat, seperti pemesanan melalui platform seperti Airbnb yang dalam sejumlah kasus bergantung pada kebijakan masing-masing pemilik properti. “Sometimes vendor di sana tidak mau memahami kondisi kita, karena mereka merasa di sana fine-fine saja,” ujar dia.
Menurut Pauline, kondisi tersebut membuat wisatawan menghadapi persoalan ganda. “Di satu sisi, mereka harus menunggu kepastian perjalanan akibat gangguan penerbangan. Di sisi lain, mereka harus berhadapan dengan kebijakan pembatalan atau perubahan layanan yang berbeda-beda di negara tujuan,” terang dia.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.