Jurnal Indonesia — Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Jumat (11/9/2026), namun secara keseluruhan masih mencatat kenaikan lebih dari 8% sepanjang pekan. Situasi pasokan yang ketat akibat gangguan jalur pelayaran di Timur Tengah bahkan mendorong harga diesel Amerika Serikat (AS) menembus rekor US$ 6 per galon.
Menurut laporan Reuters, harga minyak Brent berjangka ditutup turun US$ 3,02 (2,81%) menjadi US$ 104,61 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga anjlok US$ 2,43 (2,37%) menjadi US$ 100,05 per barel. Pada perdagangan Jumat, kedua harga acuan tersebut sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Mei.
Namun, tren kenaikan berbalik arah setelah muncul laporan mengenai upaya negara-negara Timur Tengah untuk mencapai kesepakatan sementara dengan Iran terkait pelayaran melalui Selat Hormuz. Sehari sebelumnya, harga Brent dan WTI sempat melonjak lebih dari 6% menyusul eskalasi serangan terhadap kapal di kawasan tersebut.
“Hal-hal yang menyebabkan kepanikan kemarin mulai mereda hari ini. Pertanyaannya, apakah pasar akan tetap tenang selama akhir pekan? Saat itulah berbagai hal tampaknya terjadi,” ujar Phil Flynn, senior analyst Price Futures Group. Laporan mengenai pembicaraan terkait masa depan Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang mengubah sentimen pasar minyak.
Giovanni Staunovo, analis energi UBS, menambahkan, “Beberapa berita mengenai kemungkinan pembicaraan baru di Timur Tengah memberikan tekanan moderat terhadap harga minyak hari ini. Saya masih melihat risiko kenaikan harga minyak dalam jangka pendek, tetapi kita juga harus memperkirakan volatilitas harga yang tinggi.”
Di tengah penurunan harga pada Jumat, kekhawatiran mengenai pasokan minyak global tetap tinggi. Citra satelit menunjukkan adanya asap pada Kamis di sekitar East-West Pipeline milik Arab Saudi, sebuah jalur penting yang digunakan kerajaan untuk mengalihkan ekspor minyak mentah agar tidak melewati Selat Hormuz. Sejumlah laporan kemudian menyebut salah satu stasiun pompa di jalur tersebut mengalami kerusakan akibat serangan kelompok militan yang berafiliasi dengan Iran.
“Yang mengejutkan adalah pasar minyak tetap turun setelah laporan bahwa pemberontak Houthi menyerang East-West Pipeline, yang dapat berdampak terhadap 7 juta barel minyak mentah,” kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates. Menurut Lipow, perbaikan stasiun pompa membutuhkan waktu dan pekerjaan yang lebih kompleks dibandingkan sekadar memperbaiki kerusakan pada pipa. “Jaringan listrik harus diperbaiki, sistem pemompaan juga harus diperbaiki,” ujarnya.
Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan bahwa pasokan minyak mentah Arab Saudi turun 2,3 juta barel per hari (bph) secara bulanan menjadi 6 juta bph pada Agustus. Level tersebut merupakan yang terendah dalam lebih dari tiga dekade, seiring serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi. Tekanan terhadap jalur distribusi minyak juga meningkat setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mencapai Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb, menurut empat sumber pemerintah Yaman kepada Reuters.
Iran sebelumnya menyatakan telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz pada Rabu, setelah AS menyerang lima kapal tanker minyak Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menyatakan akan meningkatkan respons jika terjadi serangan lebih lanjut. Data awal pelacakan kapal menunjukkan jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz turun menjadi tujuh pada Kamis, dari 11 kapal sehari sebelumnya. Sebelum perang Iran dimulai pada akhir Februari, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar 125 kapal komoditas serta sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari.
Gangguan pasokan minyak akibat perang Iran serta serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia turut mendorong harga produk olahan minyak di AS. Harga rata-rata nasional diesel AS menembus US$ 6 per galon untuk pertama kalinya pada Kamis, berdasarkan data pelacak harga GasBuddy. “Produk olahan, terutama diesel, saat ini menghadapi pukulan ganda,” kata Tim Waterer, chief market analyst KCM Trade.
Menurut Waterer, selama kendala pelayaran di kawasan Teluk dan gangguan kilang Rusia masih berlangsung, harga diesel dan produk olahan lainnya berpotensi mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan harga minyak mentah secara keseluruhan. Di tengah lonjakan harga energi, Commerzbank menaikkan proyeksi harga Brent akhir tahun menjadi US$ 85 per barel dari sebelumnya US$ 75 per barel. Bank tersebut juga menaikkan proyeksi harga diesel menjadi US$ 1.200 per ton dari US$ 950 per ton dan proyeksi harga bahan bakar jet menjadi US$ 1.230 per ton dari US$ 980 per ton.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.