Jurnal Indonesia — Nilai tukar rupiah (IDR) kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Jumat, 11 September 2026. Data Bloomberg pada pukul 15.20 WIB mencatat rupiah ditutup melemah 64 poin atau 0,36% ke level Rp 17.611 per dolar AS, melanjutkan pelemahan dari hari sebelumnya yang berada di Rp 17.547 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tren pelemahan rupiah yang berlanjut ini dipicu oleh kombinasi sentimen geopolitik yang berkepanjangan, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah, serta ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Ketegangan di Timur Tengah dilaporkan meningkat setelah Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz. Menanggapi hal tersebut, Amerika Serikat menyatakan telah melakukan serangan balasan dengan menenggelamkan lima kapal tanker Iran. Ibrahim menyoroti bahwa serangan-serangan ini menandai pertempuran terparah dalam beberapa bulan terakhir dan menunjukkan minimnya tanda-tanda penurunan eskalasi konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan.
Peningkatan konflik di Timur Tengah yang berpotensi menghambat jalur pelayaran di Selat Hormuz semakin memperbesar kekhawatiran akan terjadinya lonjakan harga minyak dunia. Hal ini berisiko mendorong laju inflasi menjadi lebih tinggi.
Selain itu, pelemahan rupiah juga terjadi seiring dengan rilis data inflasi produsen tahunan Amerika Serikat yang tercatat naik menjadi 5,4%, sedikit di atas perkiraan 5,3% dan meningkat dari angka sebelumnya sebesar 4,8%. Sementara itu, inflasi produsen inti AS secara tahunan juga mengalami kenaikan dari 4,3% menjadi 4,6%. Ibrahim menambahkan bahwa fokus pasar pada malam nanti akan tertuju pada rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang dijadwalkan pada pukul 19.30 WIB.
Dari sisi domestik, rupiah turut tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah yang telah melampaui US$ 100 per barel. Situasi ini menimbulkan tantangan fiskal bagi Indonesia sebagai negara importir neto minyak. Ibrahim menambahkan, dampak utama dan beban fiskal yang muncul akibat situasi tersebut adalah pembengkakan subsidi dan kompensasi energi, yang pada akhirnya meningkatkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.