— JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi kembali menghadapi tekanan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada pembukaan perdagangan Senin, 14 September 2026. Proyeksi ini muncul setelah rupiah menutup perdagangan Jumat sore (11/9/2026) dengan pelemahan 64 poin atau 0,36% ke level Rp 17.611 per dolar AS, melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya yang berakhir di Rp 17.547 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di kisaran Rp 17.610 hingga Rp 17.650 per dolar AS pada Senin depan. Untuk pergerakan dalam sepekan ke depan, Ibrahim memprediksi rupiah akan berada dalam rentang Rp 17.500 hingga Rp 17.850 per dolar AS.

Ibrahim menjelaskan bahwa prospek rupiah masih dibayangi oleh sejumlah tekanan dari faktor eksternal. Salah satu sorotan utama adalah dampak geopolitik di Timur Tengah terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Ia menyoroti potensi serangan Houthi di Bab el-Mandeb yang dapat mengganggu jalur pasokan minyak utama, menambah ketidakpastian di pasar minyak mentah global.

“Kondisi ini mendorong para pedagang untuk memperhitungkan premi risiko yang jauh lebih tinggi dalam harga minyak mentah,” ujar Ibrahim.

Selain isu geopolitik, rupiah juga rentan tertekan oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang baru saja diterbitkan. Data tersebut menunjukkan kenaikan inflasi produsen tahunan AS menjadi 5,4%, sementara inflasi produsen inti AS juga tercatat naik menjadi 4,6% dari sebelumnya 4,3%.

“Angka-angka tersebut menjaga kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed tetap terbuka lebar,” lanjut Ibrahim, mengindikasikan potensi kebijakan pengetatan moneter oleh bank sentral AS yang dapat memperkuat dolar.

Dari sisi domestik, kenaikan harga minyak dunia yang telah melampaui US$ 100 per barel menimbulkan kekhawatiran terhadap keseimbangan fiskal Indonesia. Ibrahim memaparkan, lonjakan harga minyak mentah di atas asumsi Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) dalam APBN berpotensi meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak (BBM) serta Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 Kg.

Hal ini, lanjutnya, dapat memperbesar risiko defisit anggaran. Sebagai negara importir minyak neto, Indonesia membutuhkan pasokan minyak dalam jumlah besar yang dibayarkan menggunakan dolar AS. Kenaikan harga minyak secara otomatis meningkatkan kebutuhan dolar AS, yang berimbas pada pelebaran defisit transaksi berjalan dan lonjakan permintaan mata uang asing tersebut. Akibatnya, nilai tukar rupiah tertekan, dan berpotensi memicu inflasi barang impor (imported inflation) untuk komoditas lainnya.