Jurnal Indonesia — JAKARTA – Lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan mengalami penurunan tajam. Berdasarkan data awal pelacakan kapal pada Kamis (10/09/2026), hanya tercatat tujuh kapal yang melintas, jauh berkurang dibandingkan 11 kapal pada hari sebelumnya. Angka ini juga berada di bawah rata-rata 10 hari terakhir yang mencapai 15 kapal per hari.
Data Kpler hingga pukul 03.06 GMT mengungkapkan bahwa dua kapal Panamax telah keluar dari Selat Hormuz. Satu kapal dilaporkan mengangkut pupuk, sementara kapal lainnya berlayar tanpa muatan. Selain itu, lima kapal lainnya tercatat memasuki selat dengan membawa berbagai jenis kargo, termasuk curah kering, baja, biji-bijian, produk minyak berat, dan muatan curah lainnya.
Perlu dicatat bahwa angka ini belum termasuk kapal-kapal yang kemungkinan mematikan sistem transponder Automatic Identification System (AIS) mereka untuk menghindari deteksi.
Penurunan aktivitas di Selat Hormuz menjadi perhatian serius mengingat peran vitalnya sebagai salah satu rute energi terpenting di dunia. Sebelum eskalasi konflik Iran pada 28 Februari, selat ini biasanya dilalui oleh sekitar 125 kapal komersial besar setiap harinya. Kapal-kapal tersebut meliputi tanker minyak, pengangkut gas, kapal curah, dan kapal kontainer.
Selat Hormuz merupakan jalur krusial yang menyalurkan sekitar 20% dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia setiap harinya. Pemberlakuan blokade pelayaran oleh Amerika Serikat terhadap aktivitas yang terkait dengan Iran juga telah menghentikan ekspor minyak mentah Iran sejak pertengahan Juli lalu.
Meskipun terjadi penurunan arus pelayaran secara umum, beberapa kapal yang terafiliasi dengan QatarEnergy dilaporkan masih terlihat melintasi kawasan tersebut. Dua kapal tanpa muatan, Al Ghashamiya dan Al Daayen, terpantau berada di Selat Hormuz masing-masing pada 9 September dan 6 September. Kapal lain yang dikelola QatarEnergy, Al Marrouna, juga tercatat keluar dari Selat Hormuz pekan ini setelah menyelesaikan pengiriman kargo dari Ras Laffan ke Pakistan pada 10 September. Perjalanan tersebut menandai pengiriman LNG pertama yang diketahui menggunakan tanker terkait Qatar sejak akhir Juli. Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari QatarEnergy terkait hal ini.
Sementara itu, di wilayah Laut Merah, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan telah menguasai kota pelabuhan Mocha di Yaman dan terus bergerak di sepanjang pesisir menuju sejumlah pulau strategis. Di Selat Bab el-Mandeb, sebanyak 26 kapal komoditas dilaporkan melintas pada Kamis, terdiri dari 10 kapal masuk dan 16 kapal keluar. Angka ini relatif mendekati rata-rata 10 hari terakhir yang tercatat sekitar 27 kapal per hari.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.