— JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi akan kembali melemah pada perdagangan Jumat, 11 September 2026. Pakar menilai sentimen geopolitik Timur Tengah dan antisipasi rilis data ekonomi Amerika Serikat menjadi faktor utama pelemahan mata uang Garuda.

Pada penutupan perdagangan Kamis (10/9/2026), rupiah tercatat melemah 36 poin atau 0,21% ke level Rp 17.547 per dolar AS. Posisi ini turun dari penutupan sebelumnya di Rp 17.511 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp 17.540 – Rp 17.590 per dolar AS pada perdagangan Jumat.

Menurut Ibrahim, sentimen geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar. Meningkatnya ketegangan pasca serangan kelompok militan Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi berpotensi memperparah kekhawatiran gangguan pasokan global, terutama jika meluas di luar wilayah Hormuz.

Selain itu, rupiah juga menghadapi tekanan menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, yaitu Indeks Harga Produsen (PPI) dan Indeks Harga Konsumen (CPI). Data inflasi ini akan sangat menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Ibrahim menjelaskan bahwa laporan-laporan tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan minggu depan guna meredam tekanan harga. Saat ini, CME FedWatch Tool menunjukkan pasar memperkirakan peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga The Fed.

Dari dalam negeri, kekhawatiran lonjakan harga minyak dunia juga berisiko menekan keuangan negara. Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, defisit anggaran berisiko melebar di atas target. Kebutuhan dolar AS yang meningkat akibat impor minyak mahal dapat memperlemah nilai tukar rupiah.

Ibrahim menambahkan, jika pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM domestik untuk mengurangi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), hal ini dapat memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.