— Harga emas dunia menghadapi tantangan untuk kembali menguat setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Kondisi ini membuat emas kehilangan momentum, sementara kenaikan imbal hasil obligasi AS meningkatkan daya tarik aset berbunga.

Harga emas spot ditutup naik 0,75% menjadi US$ 4.348,93 per ons troi pada perdagangan Jumat. Meski menguat, harga emas masih turun sekitar 1,84% sepanjang pekan ini. Market Analyst Forex.com Julian Pineda CFA CMT menilai pergerakan emas dalam beberapa sesi terakhir cenderung netral. Dalam empat sesi perdagangan terakhir, harga emas hanya bergerak sekitar minus 0,36%.

“Emas masih harus bersaing dengan pasar obligasi yang kembali menarik bagi investor. Selama ketidakpastian mengenai kemungkinan kebijakan bank sentral yang lebih agresif masih bertahan, permintaan emas berpotensi kesulitan membangun pemulihan yang lebih kuat,” tulis Pineda dalam risetnya, Sabtu.

Pineda mengatakan, perhatian pasar kini tertuju pada inflasi AS. Indeks Harga Konsumen (CPI) Agustus berada di level 3,4%, sesuai ekspektasi, sedangkan inflasi inti mencapai 2,4%. Meski tidak menunjukkan percepatan signifikan, inflasi masih jauh di atas target The Fed sebesar 2%.

Data tersebut mendorong perubahan ekspektasi suku bunga. Sehari sebelum rilis CPI, peluang The Fed menaikkan suku bunga acuannya ke kisaran 4% berada di sekitar 70%. Setelah data dirilis, probabilitas tersebut melonjak menjadi hampir 86%, sementara peluang suku bunga tetap turun menjadi sekitar 13,5%.

“Perubahan ekspektasi tersebut menjadi tantangan bagi emas karena kenaikan suku bunga meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil,” jelas Pineda.

Yield Obligasi AS Jadi Tekanan Tambahan

Pineda mengatakan, tekanan terhadap emas juga datang dari pasar obligasi. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun kembali mendekati 5% dan mencetak level tertinggi sepanjang tahun ini. “Kenaikan yield yang berkelanjutan berpotensi membatasi permintaan emas dalam jangka pendek. Jika obligasi tetap menarik bagi investor, emas dapat kesulitan membangun momentum dan bahkan menghadapi tekanan jual moderat,” kata Pineda.

Secara teknikal, emas masih berupaya mempertahankan tren bullish jangka menengah. Namun, momentum mulai melemah. Relative Strength Index (RSI) bergerak di sekitar level 50, sementara histogram MACD berada dekat garis netral 0, menunjukkan keseimbangan antara tekanan beli dan jual.

Level Kritis Penentu Arah Emas

Pineda menyoroti tiga level penting yang akan menentukan arah emas selanjutnya. US$ 4.530 per ons troi menjadi resistance kunci yang berdekatan dengan Simple Moving Average (SMA) 200 periode. Jika berhasil ditembus, bias bullish berpotensi kembali menguat. Sementara itu, US$ 4.330 per ons troi menjadi area keseimbangan yang berpotensi menjaga emas dalam fase netral atau trading range.

Adapun US$ 4.200 per ons troi merupakan support kritis yang berdekatan dengan SMA 50 periode dan dasar garis tren bullish. Jika harga emas menembus US$ 4.200 per ons troi, struktur bullish berisiko patah dan membuka ruang bagi tekanan bearish yang lebih kuat.