Jurnal Indonesia — Nilai tukar rupiah (IDR) terhadap dolar AS (USD) mencatat penguatan tipis sebesar 29 poin atau 0,16% dalam sepekan terakhir, bergerak dari level Rp 17.640 menjadi Rp 17.611. Periode pengamatan ini berlangsung dari Senin, 7 September 2026 hingga Jumat, 11 September 2026.
Pada awal pekan, Senin (7/9/2026), rupiah dibuka melemah 17 poin (0,1%) ke Rp 17.659 per dolar AS, namun berhasil ditutup menguat 2 poin (0,01%) ke Rp 17.640.
Selasa (8/9/2026), pelemahan tipis terjadi saat pembukaan di Rp 17.641 (melemah 1 poin). Namun, sore harinya rupiah ditutup menguat 8 poin (0,05%) ke Rp 17.632.
Rabu (9/9/2026) menunjukkan penguatan signifikan. Rupiah dibuka menguat 55 poin (0,31%) ke Rp 17.577 dan ditutup melonjak 121 poin (0,69%) ke Rp 17.511.
Memasuki Kamis (10/9/2026), tren berbalik. Rupiah dibuka melemah 1 poin ke Rp 17.512 dan ditutup terkoreksi 36 poin (0,21%) ke Rp 17.547.
Pada penutupan pekan, Jumat (11/9/2026), rupiah kembali melemah. Dibuka di Rp 17.585 (melemah 38 poin), kurs rupiah ditutup melemah 64 poin (0,36%) ke Rp 17.611.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah berpotensi kembali melemah pada perdagangan Senin, 14 September 2026. “Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diproyeksi melemah di rentang Rp.17.610 – Rp 17.650 per dolar AS,” ungkap Ibrahim.
Menatap sepekan ke depan, Ibrahim memprediksi pergerakan nilai tukar rupiah berada di antara Rp 17.500 hingga Rp 17.850 per dolar AS. Ia menjelaskan bahwa prospek rupiah masih menghadapi sejumlah tekanan dari faktor eksternal. Tekanan ini mencakup dampak geopolitik di Timur Tengah terhadap harga minyak dunia serta arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.