Jurnal Indonesia — JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali melanjutkan pelemahannya pada penutupan perdagangan hari Kamis, 10 September 2026. Rupiah ditutup melemah 36 poin atau setara 0,21% ke level Rp 17.547 per dolar AS, beranjak dari penutupan sebelumnya di Rp 17.511 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah kali ini dipicu oleh sentimen negatif yang berasal dari konflik di Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah Iran mengumumkan serangan terhadap 10 kapal di sekitar Selat Hormuz pada hari Rabu (9/9). Amerika Serikat dilaporkan merespons dengan menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran.
Situasi semakin memanas dengan serangan kelompok militan Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi pekan ini. Kejadian ini semakin memperkuat kekhawatiran pasar global mengenai potensi gangguan pasokan energi.
Selain faktor geopolitik, kondisi ekonomi domestik juga turut memberikan tekanan pada rupiah. Pasar kini tengah menanti rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) dan Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan pada hari Jumat. Data inflasi ini akan sangat menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve ke depan.
Dari sisi domestik, kekhawatiran akan kenaikan harga minyak dunia berisiko menekan anggaran negara. “Meskipun pemerintah mengisyaratkan anggaran negara berada dalam posisi aman, risiko fiskal akibat tingginya harga minyak dunia tetap membayangi stabilitas perekonomian,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).
Ibrahim menambahkan, “Tingginya harga minyak mentah memicu kekhawatiran utama pada beberapa sektor diantaranya, kenaikan harga minyak secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi (BBM dan LPG).”
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.