Jurnal Indonesia — Harga emas mencatat kenaikan pada perdagangan Jumat (11/9/2026), mengakhiri tekanan hebat yang dialami sehari sebelumnya. Namun, pemulihan ini masih dibayangi oleh potensi kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang semakin menguat, terutama setelah data inflasi AS dirilis.
Harga emas spot ditutup menguat 0,75% menjadi US$ 4.348,93 per ons troi. Meskipun ada penguatan, secara mingguan harga emas membukukan pelemahan sekitar 1,84%, menandai penurunan selama tiga pekan berturut-turut. Sementara itu, harga kontrak berjangka emas AS justru ditutup melemah 0,39% ke level US$ 4.390 per ons troi.
Penguatan tipis ini terjadi setelah harga emas tertekan hampir 2% pada Kamis (10/9/2026). Tekanan tersebut dipicu oleh data Producer Price Index (PPI) AS yang menunjukkan kenaikan harga produsen sesuai ekspektasi pada Agustus. Setelah mengalami koreksi tajam, harga emas kemudian mendapat dorongan dari aksi beli saat harga melemah, yang menunjukkan tanda-tanda menemukan pijakan.
“Harga emas pulih dengan cepat setelah penurunan singkat, karena data CPI mungkin semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pekan depan. Volatilitas agak terbatas karena pasar sudah memperhitungkan peluang kenaikan sebesar 70%,” kata pedagang logam independen Tai Wong. Menurut Wong, pergerakan harga emas menunjukkan komoditas tersebut mulai menemukan titik dasar dalam jangka pendek setelah mengalami penurunan baru-baru ini.
Inflasi Perkuat Tekanan Kenaikan Suku Bunga
Di sisi lain, data inflasi AS justru menjadi sinyal kurang bersahabat bagi emas. Consumer Price Index (CPI) AS tercatat naik 0,4% pada Agustus, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,1% pada Juli, berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS. Data ini mendorong pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam pertemuan kebijakan pekan depan.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga mencapai 87%, melonjak signifikan dari 67% sebelum data inflasi AS dirilis. Kenaikan ekspektasi suku bunga menjadi tantangan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis bunga sekaligus menekan permintaan terhadap emas.
Harga minyak juga menjadi faktor yang diperhatikan pasar. Meskipun turun pada perdagangan Jumat, harga minyak masih berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan. Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan pada akhirnya memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi, yang dapat menjadi beban tambahan bagi harga emas.
Sementara itu, permintaan emas fisik di India masih lesu pada pekan ini, dengan volatilitas harga membuat konsumen menahan pembelian. Sebaliknya, permintaan investasi di China, salah satu konsumen emas terbesar dunia, masih menunjukkan kekuatan.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot melonjak 1,43% menjadi US$ 64,5 per ons, meskipun masih turun hampir 2,6% sepanjang pekan. Harga platinum naik 0,96% menjadi US$ 1.798,61 per ons, sedangkan palladium melejit 1,46% menjadi US$ 1.301,81 per ons. Kendati demikian, kedua logam tersebut masih berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.