Jurnal Indonesia — JAKARTA – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah merilis panduan pertolongan pertama yang bisa dilakukan orang tua di rumah apabila anak menunjukkan gejala keracunan makanan. Langkah paling krusial dalam penanganan awal ini adalah fokus pada pencegahan kehilangan cairan tubuh atau dehidrasi pada anak.
Menurut Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, dr. Yogi Prawira, ancaman terbesar bagi kesehatan anak saat keracunan makanan bukanlah kuman itu sendiri, melainkan risiko dehidrasi yang dapat terjadi dengan cepat akibat muntah dan diare.
“Yang membahayakan anak adalah kehilangan cairan, bukan hanya kumannya. Kita bisa beri oralit sedikit-sedikit tapi sering, ASI dan makanan diteruskan, pantau anak berapa kali berkemih,” ujar dr. Yogi dalam diskusi media di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Keracunan makanan umumnya terjadi setelah anak mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri, racun, virus, parasit, maupun bahan kimia. Gejala umum yang sering muncul meliputi mual, muntah, nyeri perut, serta buang air besar yang bersifat cair atau bahkan berdarah.
Selain gejala yang berkaitan langsung dengan pencernaan, orang tua juga diimbau untuk mewaspadai tanda-tanda non-spesifik yang mungkin muncul. Tanda-tanda ini termasuk demam, pusing, pandangan kabur, kelemahan pada anggota gerak, hingga sensasi kesemutan. Apabila gejala-gejala tersebut terdeteksi, anak harus segera dibawa untuk mendapatkan pemeriksaan dari tenaga medis profesional.
Tanda-tanda dehidrasi pada anak yang perlu diwaspadai antara lain mulut yang terasa kering, rasa haus yang terus-menerus, pusing, lemas, penurunan frekuensi buang air kecil, serta perubahan warna air kemih menjadi lebih pekat. Untuk mengatasi kondisi ini, dr. Yogi membagikan langkah-langkah pertolongan pertama yang tepat untuk dilakukan di rumah:
- Hentikan Makanan Mencurigakan: Segera tarik dari jangkauan anak makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan. Simpan sisa makanan tersebut karena mungkin diperlukan untuk pemeriksaan medis lebih lanjut.
- Berikan Oralit Secara Bertahap: Berikan cairan oralit kepada anak dalam jumlah sedikit namun diberikan secara sering. Apabila anak kembali muntah, pemberian cairan tidak boleh dihentikan, namun perlu diperlambat temponya.
- Lanjutkan Asupan Nutrisi: Tetap berikan ASI atau makanan lain sesuai dengan kemampuan anak untuk mengonsumsinya. Ketika gejala muntah mulai mereda, berikan makanan dengan tekstur lunak dalam porsi kecil, seperti bubur, pisang, atau roti.
- Pantau Tanda Vital: Pastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup dan pantau frekuensi buang air kecilnya secara berkala untuk mendeteksi tanda-tanda dehidrasi.
Di sisi lain, dr. Yogi juga memberikan peringatan tegas mengenai hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan oleh orang tua saat merawat anak yang mengalami keracunan makanan:
- Jangan membuat larutan garam sendiri di rumah, karena kesalahan dalam takaran dapat membahayakan keselamatan anak.
- Hindari merangsang anak untuk muntah secara paksa atau memberikan arang aktif tanpa adanya petunjuk langsung dari dokter.
- Jangan memberikan obat untuk menghentikan diare tanpa resep dokter. Pemberian obat semacam ini dapat menyebabkan racun dan kuman tertahan lebih lama di dalam saluran pencernaan.
- Hindari pemberian antibiotik atas inisiatif sendiri. Selain itu, batasi sementara pemberian susu sapi, teh, atau kopi pada anak yang lebih besar.
Keracunan makanan pada anak masih menjadi salah satu masalah kesehatan pencernaan yang sering ditemui. Hal ini kerap disebabkan oleh pengolahan, penyajian, atau penyimpanan makanan yang kurang higienis.
Dibandingkan dengan orang dewasa, anak-anak memiliki proporsi cairan tubuh yang lebih tinggi dan sistem kekebalan tubuh yang masih dalam tahap perkembangan. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan mengalami dehidrasi berat dalam waktu singkat ketika terserang gejala muntah dan diare.
Kurangnya pemahaman mengenai tata cara pertolongan pertama sering kali memicu kepanikan pada orang tua. Kesalahan umum seperti menghentikan pemberian cairan, memaksa anak berpuasa, atau memberikan obat diare bebas tanpa petunjuk medis justru berisiko memperburuk infeksi dan memperlambat proses pemulihan.
Oleh karena itu, penanganan mandiri yang tepat di rumah, dengan fokus utama pada rehidrasi cairan dan pemantauan gejala secara cermat, menjadi kunci utama dalam mencegah komplikasi fatal sebelum anak mendapatkan penanganan medis lebih lanjut di fasilitas pelayanan kesehatan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.