— Program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) menuntut pendekatan medis yang sangat personal, disesuaikan dengan kondisi unik setiap pasien. Evaluasi mendalam terhadap riwayat terapi, respons tubuh terhadap stimulasi obat, kualitas sperma, hingga perkembangan embrio merupakan komponen krusial dalam merancang strategi yang efektif untuk setiap siklus program.

Dokter fertilitas Dr. Wan Syahirah Binti Yang Mohsin menjelaskan bahwa pasien yang belum berhasil memperoleh blastokista dalam siklus sebelumnya memerlukan evaluasi lebih lanjut. Penanganan selanjutnya dapat mencakup penyesuaian protokol stimulasi, pemilihan jenis obat beserta dosis yang tepat, serta pemanfaatan teknologi laboratorium canggih untuk memantau perkembangan embrio secara optimal.

Teknologi seperti Embryoscope+ Timelapse dan sistem penilaian embrio berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat berfungsi sebagai alat bantu vital dalam mengamati pertumbuhan embrio. Selain itu, metode seleksi sperma inovatif seperti PICSI dan penggunaan media kultur khusus juga menjadi opsi yang dapat dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan medis spesifik pasien.

Meskipun teknologi reproduksi terus mengalami kemajuan pesat, Dr. Sera, sapaan akrab Dr. Wan Syahirah, menegaskan bahwa program IVF tidak dapat menjamin keberhasilan mutlak pada setiap siklus. “Namanya IVF, hasilnya tetap tidak bisa 100% keberhasilan. Tetapi kami mencoba memberikan yang terbaik dengan teknologi dan kepakaran yang kami miliki,” ujarnya dalam sesi diskusi The Alhaya Fertility Journey 2026 di Jakarta.

Dr. Sera menambahkan bahwa komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien memegang peranan penting, mengingat respons terhadap terapi dapat sangat bervariasi antar individu. “Dalam bayi tabung, dokter dan pasien adalah tim,” imbuhnya, menekankan pentingnya kolaborasi.

Pendekatan medis yang disesuaikan ini juga dialami oleh aktris Irish Bella saat menjalani program kehamilan bersama suaminya. Sebelum beralih ke program bayi tabung, Irish dan suami telah mencoba metode inseminasi sebanyak dua kali. Setelah itu, mereka melanjutkan program bayi tabung selama kurang lebih satu tahun.

Irish mengungkapkan bahwa pengalaman IVF pertamanya tidaklah mudah, baik dari segi fisik maupun emosional. “Rasanya campur aduk. Bukan hanya secara fisik karena sakit, tetapi secara emosi juga luar biasa. Saat stimulasi hormon, mood swing itu sangat terasa,” tuturnya.

Setelah mengalami kegagalan pada program sebelumnya, Irish dan suami kembali melakukan evaluasi untuk mencari pendekatan yang dirasa lebih sesuai dengan kondisi mereka. Irish kemudian menjalani dua siklus IVF berikutnya. Pada siklus pertama, embrio berhasil diperoleh meskipun jumlah blastokista masih terbatas, menunjukkan perkembangan positif dibandingkan pengalaman sebelumnya.

Pada siklus selanjutnya, pendekatan medis kembali disesuaikan berdasarkan hasil evaluasi dan respons tubuh terhadap terapi. Bagi Irish, perjalanan IVF tidak hanya ditentukan oleh tindakan dan teknologi medis, tetapi juga kenyamanan berkomunikasi dengan dokter yang turut memengaruhi kesiapan pasien menjalani proses panjang dan penuh ketidakpastian. “Menurut saya, kita harus cocok dengan dokternya. Dokternya harus support sama kita,” tambahnya.

Irish menambahkan bahwa ketidakpastian hasil adalah salah satu aspek yang paling menekan selama menjalani program. Selain dukungan tenaga medis, ia mengaku banyak terbantu oleh keluarga. Suami dan anggota keluarga turut mendampinginya selama rangkaian terapi, termasuk saat menjalani suntikan sebagai bagian dari program IVF.

Founder Menuju Dua Garis, Mizz Rosie, menyatakan bahwa pasangan yang menjalani program kehamilan seringkali dihadapkan pada banyak hal yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan. Oleh karena itu, dukungan dari pasangan, keluarga, serta komunikasi yang baik dengan tenaga medis sangat krusial untuk membantu pasien menghadapi tekanan selama program.

Direktur TripMedis, David, menjelaskan bahwa pendampingan bagi pasien Indonesia yang menjalani program fertilitas di luar negeri juga mencakup proses pemilihan rumah sakit dan dokter yang sesuai dengan kebutuhan spesifik pasien. “Selama hampir 10 tahun, kami membantu pasien Indonesia menemukan rumah sakit dan dokter yang sesuai dengan kebutuhan mereka di Malaysia, termasuk pasien program bayi tabung yang membutuhkan pendampingan dan privasi lebih tinggi,” ujarnya.

Menurut David, kebutuhan pasien tidak hanya sebatas pada tindakan medis, tetapi juga mencakup akses informasi, kemudahan komunikasi dengan fasilitas kesehatan, serta pendampingan komprehensif selama menjalani seluruh rangkaian program. Pengalaman ini menggarisbawahi bahwa IVF bukan sekadar tentang teknologi reproduksi berbantu, melainkan juga memerlukan evaluasi medis individual yang cermat, komunikasi yang jelas, serta kesiapan fisik dan emosional pasien dalam menghadapi setiap tahapan terapi.