— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melemah tipis pada perdagangan sesi I hari Senin, 7 September 2026. Pelemahan ini dipengaruhi oleh sentimen eksternal yang berasal dari meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Pada akhir sesi I, IHSG tercatat turun 8,29 poin atau sekitar 0,12% sehingga berada di level 6.628. Pergerakan indeks di awal pekan ini terjadi di tengah bursa saham regional Asia yang menunjukkan tren variatif atau mixed.

Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan bahwa pelaku pasar masih terus mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Kekhawatiran muncul setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan terhadap kapal selama akhir pekan. Iran dilaporkan telah menargetkan kapal tanker minyak dan sejumlah kapal lain yang terafiliasi dengan AS. Selain itu, Iran juga berencana untuk menetapkan zona maritim terbatas di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang.

Ketegangan ini terjadi pasca serangan AS terhadap kapal tanker minyak milik Iran. Washington mengklaim serangan tersebut merupakan tindakan balasan atas serangan rudal yang dilancarkan Teheran terhadap kapal perang Angkatan Laut AS. “Eskalasi konflik tersebut kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi, terutama melalui potensi gangguan terhadap pasokan dan jalur perdagangan minyak global. Kondisi ini membuat pelaku pasar mengambil sikap lebih berhati-hati,” tulis Pilarmas dalam risetnya pada Senin (7/9/2026).

Selain isu geopolitik, Pilarmas menambahkan bahwa pasar juga memberikan respons terhadap data ketenagakerjaan AS yang dilaporkan lebih kuat dari perkiraan. Data US Change in Nonfarm Payrolls menunjukkan adanya kenaikan dari angka sebelumnya 21 ribu menjadi 162 ribu. Penguatan pasar tenaga kerja ini menjadi sinyal pemulihan pasca periode pelemahan. Namun, di sisi lain, data tersebut juga meningkatkan spekulasi bahwa The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan suku bunga ketat, termasuk kemungkinan perubahan suku bunga acuan pada bulan ini.

Sentimen Dalam Negeri

Dari dalam negeri, Pilarmas menyebutkan adanya sentimen positif yang berasal dari posisi cadangan devisa Indonesia yang tetap kuat. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai US$146,5 miliar. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan posisi akhir Juli 2026 yang tercatat sebesar US$145,3 miliar.

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan untuk impor, atau 5,3 bulan jika termasuk pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini juga masih berada di atas standar kecukupan internasional, yang umumnya sekitar tiga bulan untuk impor. “Kondisi tersebut dinilai mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia,” jelas Pilarmas.

Namun, Pilarmas juga mengingatkan bahwa pasar tetap perlu mencermati risiko dari bencana alam. Erupsi Gunung Anak Krakatau pada akhir pekan lalu berpotensi meningkatkan risiko gangguan terhadap kesehatan masyarakat, transportasi, hingga aktivitas logistik.

Pada perdagangan sesi I, beberapa saham berhasil bergerak berlawanan arah dengan IHSG. Saham PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS) tercatat sebagai salah satu penguat terbesar, diikuti oleh PT Soho Global Health Tbk (SOHO), PT Haloni Jane Tbk (HALO), PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID), dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF).

Sementara itu, saham-saham yang mengalami tekanan terbesar antara lain PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE), PT Mineral Sumberdaya Mandiri Tbk (AKSI), PT Agro Bahari Nusantara Tbk (AGAR), PT Pioneerindo Gourmet International Tbk (PTSP), dan PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA).

Di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi oleh sentimen global, Pilarmas merekomendasikan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan rekomendasi buy. “Adapun level support dan resistance BUMI berada pada Rp 214 – 240,” tutup Pilarmas.