Jurnal Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan pada sesi pertama perdagangan Selasa (8/9/2026). Menurut Pilarmas Investindo Sekuritas, penguatan ini ditopang oleh membaiknya sentimen domestik, yang didukung oleh terjaganya cadangan devisa dan kembalinya operasional sejumlah bandara setelah sebelumnya terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Pada sesi pertama perdagangan, IHSG berhasil naik 55,28 poin atau 0,84% ke level 6.674.
Pilarmas menjelaskan bahwa sentimen pasar mendapat dorongan positif dari posisi cadangan devisa Indonesia yang tercatat meningkat menjadi US$ 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, naik dari US$ 145,3 miliar pada akhir Juli. Bank Indonesia menyatakan bahwa posisi cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai impor selama 5,4 bulan atau pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 5,3 bulan.
Selain itu, sentimen pasar juga membaik seiring dengan dibukanya kembali sejumlah bandara yang sebelumnya ditutup akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Pembukaan kembali bandara ini dinilai akan mengaktifkan kembali berbagai aktivitas ekonomi, terutama dalam sektor logistik, rantai pasok, mobilitas, dan konektivitas bisnis.
“Perkembangan tersebut menjadi salah satu katalis positif bagi pasar saham domestik,” tulis Pilarmas dalam risetnya pada Selasa (8/9/2026).
Di pasar regional, Pilarmas mengamati bahwa indeks saham Asia bergerak bervariasi atau mixed. Pelaku pasar masih mencermati ketegangan geopolitik yang meningkat, terutama setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Kondisi ini turut mendorong kenaikan harga minyak berjangka akibat kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz.
“Pasar juga mengantisipasi risiko konflik Timur Tengah yang berkepanjangan. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi sekaligus menunda ekspektasi penurunan suku bunga global,” tambah Pilarmas.
Sementara itu, Pilarmas melaporkan bahwa ekonomi Jepang tumbuh sebesar 1,4% secara tahunan pada kuartal II-2026, melampaui perkiraan sebesar 1,1%. Pertumbuhan ini merupakan yang ketiga berturut-turut dan ditopang oleh pengeluaran pemerintah serta kontribusi positif dari perdagangan neto.
Dari China, Pilarmas mencatat surplus perdagangan pada Agustus 2026 mencapai US$ 119,1 miliar, meningkat dari US$ 112,5 miliar pada bulan sebelumnya. Ekspor melonjak 25% secara tahunan menjadi US$ 401,44 miliar, sementara impor tumbuh 28,2% menjadi US$ 282,36 miliar.
Pada sesi pertama perdagangan, saham-saham yang mencatat kenaikan terbesar meliputi POLA, CENT, SHID, SOHO, dan PPRI. Sementara itu, saham-saham yang mengalami penurunan terbesar adalah NZIA, OMED, LABS, dan BOLA.
Untuk perdagangan selanjutnya, Pilarmas merekomendasikan saham TLKM dengan peringkat buy. Level support untuk TLKM berada di 2.560, sedangkan level resistance di 2.800.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.