Jurnal Indonesia — Iliman Ndiaye mengungkapkan bahwa kepindahannya ke Manchester City di pengujung bursa transfer musim panas lalu adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan. Ia mengaku langsung mengiyakan tawaran dari The Citizens.
Manchester City berhasil menebus Ndiaye dari Everton dengan mahar 60 juta poundsterling, ditambah potensi add-ons senilai 5 juta poundsterling, tepat pada hari penutupan bursa transfer, 1 September. Empat hari berselang, ia langsung dipercaya oleh manajer Enzo Maresca untuk tampil sebagai starter dalam pertandingan melawan Coventry City.
Ndiaye sejatinya nyaris bergabung dengan Tottenham Hotspur. Kedua klub bahkan telah mencapai kata sepakat mengenai transfer tersebut pada pekan terakhir bursa transfer. Namun, rencana ini urung terlaksana karena Tottenham gagal melepas Richarlison, yang menjadi syarat utama transfer Ndiaye.
Manchester City kemudian memanfaatkan situasi tersebut. Ndiaye akhirnya dikontrak selama lima tahun, mengakhiri masa baktinya bersama Everton yang telah terjalin sejak tahun 2024.
“Tidak ada rasa stres ataupun panik. Saya selalu berprinsip bahwa apa pun yang akan terjadi, terjadilah. Tuhan yang menentukan masa depan Anda-semuanya sudah digariskan,” ujar Ndiaye mengenai kepindahannya, dikutip dari BBC.
“Saya hanya bersabar, dan ketika tawaran dari City datang, saya sangat gembira. Memang sudah seharusnya saya bergabung dengan City.”
Pemain asal Senegal itu menambahkan, “Saya menginginkan Liga Champions dan kesempatan bermain untuk salah satu tim terbaik di dunia. Saya tidak bilang Tottenham bukan tim hebat, tetapi ketika Manchester City datang memanggil, Anda tidak mungkin menolaknya.”
“Ini adalah pekan yang indah bagi saya, dan semuanya disempurnakan dengan sebuah kemenangan (atas Coventry),” imbuhnya.
Meskipun hanya bermain sebentar untuk Everton, Ndiaye mengaku merasa nyaman selama berada di Liverpool. Ia juga menjadi favorit para suporter berkat kontribusinya dengan mencetak 17 gol dalam 74 penampilan untuk The Toffees. Namun, ia memiliki tekad kuat untuk mengejar jalur karier yang lebih baik.
“Saat berbincang dengan istri, saya katakan padanya bahwa jika saya harus meninggalkan Everton, saya hanya akan pindah ke klub tempat saya bisa bermain di Liga Champions,” tuturnya.
“Berat rasanya meninggalkan Everton. Saya telah menjalin ikatan yang kuat dengan para penggemar dan pemain di sana, namun terkadang kita harus melangkah maju; begitulah dunia sepak bola,” tegas pemain berpaspor Senegal tersebut.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.