— JAKARTA – PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney mengonfirmasi bahwa seluruh bandara yang dikelolanya telah kembali beroperasi secara penuh. Pemulihan ini dilakukan setelah sebelumnya sempat terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan penutupan sementara.

Proses normalisasi operasional berjalan optimal dengan tetap mengedepankan keselamatan dan kesiapsiagaan pelayanan bagi seluruh penumpang. Sebelumnya, delapan bandara mengalami penutupan sejak 6 September, di mana empat di antaranya dikelola oleh InJourney Airports.

Dampak operasional tercatat di empat bandara InJourney Airports, yaitu Bandara Internasional Soekarno Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Husein Sastranegara, dan Bandara Raden Inten II. Selama periode 5-8 September, sebanyak 4.174 penerbangan terdampak, memengaruhi perjalanan 455.754 penumpang. Bandara Internasional Soekarno-Hatta menjadi yang paling signifikan terdampak.

Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyatakan bahwa keselamatan dan keamanan penumpang menjadi landasan utama dalam setiap pengambilan keputusan operasional. “Keselamatan dan keamanan penumpang senantiasa menjadi prioritas utama kami. Setiap keputusan operasional dilakukan berdasarkan asesmen menyeluruh dan pemantauan berkala, dengan mempertimbangkan kondisi abu vulkanik, hasil paper test, serta informasi dan rekomendasi dari BMKG, AirNav Indonesia, VAAC Darwin, regulator, dan otoritas penerbangan,” ujar Maya dalam keterangan tertulis, Rabu (9/9/2026).

Maya menambahkan, “Di saat yang sama, kami terus memastikan kesiapsiagaan pelayanan kebandarudaraan dan seluruh aspek keselamatan terpenuhi sesuai standar yang dipersyaratkan.”

Bandara Soekarno-Hatta kembali beroperasi normal pada 8 September pukul 00.30 WIB setelah melalui rangkaian asesmen dan pemeriksaan keselamatan. Bandara terdampak lainnya juga dibuka secara bertahap, dengan hasil pengujian BMKG yang menyatakan area bandara negatif dari paparan abu vulkanik.

Selama periode penutupan, InJourney Airports mengimplementasikan strategi mitigasi untuk menjaga konektivitas penerbangan nasional dan meminimalkan dampak mobilitas masyarakat. Salah satu langkah penting adalah pengalihan penerbangan ke bandara alternatif seperti Bandara Internasional Yogyakarta, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang, Bandara Adi Soemarmo Solo, Bandara Juanda Surabaya, dan Bandara Kertajati.

Bandara Kertajati menerima sejumlah penerbangan domestik dan internasional yang dialihkan, dengan dukungan konektivitas lanjutan menuju Jakarta melalui layanan DAMRI dan Whoosh. Sementara itu, Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) dipersiapkan sebagai bandara alternatif untuk melayani pesawat berbadan lebar, dilengkapi dengan dukungan transportasi darat.

“Sebagai holding yang mengintegrasikan ekosistem aviasi dan pariwisata, peran kami bukan hanya memastikan bandara dapat kembali beroperasi, tetapi juga memastikan perjalanan masyarakat tetap terhubung. Ketika suatu bandara harus ditutup demi keselamatan, kami mengoptimalkan jaringan bandara lain beserta konektivitas transportasi darat agar mobilitas masyarakat tetap terjaga,” jelas Maya.

Respons Cepat Hadirkan Service Recovery Activation (SRA)

InJourney Airports juga mengaktifkan Service Recovery Activation (SRA) untuk mendukung penumpang selama periode gangguan operasional. Layanan ini mencakup penyediaan shuttle bus gratis di Bandara Soekarno Hatta, makanan dan minuman ringan, area peristirahatan tambahan, serta posko siaga pelayanan penumpang di setiap bandara.

Seluruh layanan tersebut diberikan tanpa biaya bagi penumpang yang memenuhi ketentuan. Koordinasi intensif dengan maskapai juga dilakukan untuk memastikan penumpang mendapatkan informasi sesuai regulasi yang berlaku.

Dengan kembalinya seluruh bandara beroperasi, InJourney berfokus pada optimalisasi kualitas pelayanan dan penguatan kesiapsiagaan operasional. Kolaborasi dengan Kementerian Perhubungan, BMKG, AirNav Indonesia, maskapai, otoritas bandar udara, dan seluruh pemangku kepentingan terus dilakukan untuk memantau kondisi ruang udara dan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Prinsip kehati-hatian tetap diterapkan mengingat sebaran abu vulkanik dapat berubah sewaktu-waktu. “Memasuki fase recovery dan normalisasi, fokus kami adalah mengurai seluruh dampak operasional dan mendukung mobilitas masyarakat kembali normal. Kami juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat pengguna jasa kami atas kesabaran dan pengertiannya selama operasional penerbangan mengalami penghentian sementara,” pungkas Maya.