— JAKARTA – Investor asing mencatat transaksi beli bersih (net buy) senilai Rp 398,2 miliar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, 8 September 2026. Momentum ini membuat total transaksi jual bersih (net sell) asing sepanjang tahun berjalan menjadi Rp 68,3 triliun.

Saham-saham unggulan atau big cap menjadi incaran utama investor asing. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin daftar saham yang paling banyak diburu dengan net buy mencapai Rp 269,69 miliar. Diikuti oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net buy Rp 166 miliar, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang mencatatkan net buy Rp 118,9 miliar.

Sementara itu, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi yang paling banyak dilepas investor asing dengan net sell Rp 178 miliar. Posisi kedua ditempati oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang mencatat net sell Rp 85,79 miliar.

Di tengah aktivitas asing tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat signifikan. IHSG melonjak 66,7 poin atau 1% ke level 6.686,4. Penguatan ini didukung oleh pergerakan harga 380 saham yang menguat, berbanding dengan 260 saham yang melemah, dan 323 saham yang stagnan. Total nilai transaksi perdagangan hari itu mencapai Rp 15 triliun.

Sektor barang baku memimpin penguatan dengan kenaikan 2%, diikuti oleh sektor barang konsumen primer (1,39%), perindustrian (1,2%), energi (1,1%), infrastruktur (0,8%), keuangan (0,79%), transportasi (0,73%), dan properti (0,2%). Sebaliknya, sektor kesehatan turun 0,59%, teknologi 0,3%, dan barang konsumen non-primer 0,1%.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan bahwa penguatan IHSG ditopang oleh sentimen domestik yang membaik. Dua faktor utama yang berkontribusi adalah terjaganya cadangan devisa Indonesia dan kembalinya operasional sejumlah bandara setelah sebelumnya terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Posisi cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat menjadi US$ 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, naik dari US$ 145,3 miliar pada akhir Juli. Bank Indonesia menyatakan angka tersebut cukup untuk membiayai sekitar 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Selain itu, pembukaan kembali bandara-bandara yang sebelumnya ditutup akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dinilai akan mengaktifkan kembali roda perekonomian. Hal ini terutama berdampak pada sektor logistik, rantai pasok, mobilitas, dan konektivitas bisnis.

Di sisi lain, pasar masih mencermati ketegangan geopolitik yang meningkat, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran. Eskalasi konflik ini berpotensi mendorong kenaikan harga minyak berjangka akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi di Selat Hormuz.