Jurnal Indonesia — Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling banyak dilepas investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 11 September 2026, dengan total transaksi jual bersih (net sell) mencapai Rp 526,2 miliar. Penjualan ini terjadi di pasar reguler BEI, berdasarkan data Stockbit Sekuritas. Sebaliknya, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) justru diburu investor asing dengan transaksi beli bersih (net buy) terbanyak senilai Rp 120,4 miliar.
Selain BBCA, investor asing juga melakukan net sell pada saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sebesar Rp 169,5 miliar, dan saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) senilai Rp 102,1 miliar. Sementara itu, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan net buy asing sebesar Rp 41,5 miliar.
Secara keseluruhan, investor asing mencatatkan transaksi net sell sebesar Rp 690,19 miliar di seluruh pasar BEI pada hari yang sama. Dengan demikian, total net sell asing sepanjang tahun berjalan hingga Jumat tersebut mencapai Rp 71,4 triliun, berdasarkan data BEI.
Target Harga Saham BBCA
Di tengah pergerakan dana asing tersebut, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA. Perusahaan sekuritas ini mematok target harga saham BBCA di level Rp 9.480. Target harga ini mencerminkan valuasi price to book (P/B) sebesar 3,8 kali untuk proyeksi tahun 2026, sementara saham BBCA saat ini diperdagangkan pada estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 2,6 kali.
KB Valbury menilai bahwa meskipun kepercayaan pasar sedang menurun, kondisi valuasi saat ini membuka peluang terjadinya re-rating atau penilaian ulang valuasi saham apabila katalis positif mulai terealisasi. Perusahaan melihat beberapa katalis yang dapat mendukung saham BBCA, termasuk potensi pertumbuhan kredit dan imbal hasil kredit yang lebih tinggi dari perkiraan, yang dapat memperkuat Net Interest Margin (NIM).
Faktor lainnya adalah potensi cost of credit (CoC) yang lebih rendah dari perkiraan, yang dapat terjadi apabila kebutuhan pembentukan pencadangan lebih awal tetap terbatas dan kualitas aset terus membaik. Perbaikan sentimen pasar domestik dan global juga menjadi katalis yang diperhitungkan.
Meskipun demikian, KB Valbury mencatat sejumlah risiko yang dapat menekan proyeksi BBCA. Risiko tersebut meliputi pertumbuhan kredit dan penyesuaian imbal hasil kredit yang lebih rendah dari perkiraan. Biaya pendanaan serta CoC yang lebih tinggi dari estimasi juga berpotensi menekan kinerja BCA. Selain itu, penurunan NIM yang lebih dalam dari perkiraan menjadi faktor risiko lainnya.
KB Valbury juga turut mencermati potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagai salah satu risiko terhadap proyeksi kinerja BCA (BBCA).
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.