Jurnal Indonesia — PANDEGLANG – Jurnalis Merdeka.com, Ari Basuki, yang akrab disapa Abas, dikenang oleh keluarganya sebagai sosok yang berdedikasi tinggi terhadap profesinya. Ia dilaporkan hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Ari merupakan satu dari lima jurnalis dan tiga awak kapal yang masih dalam pencarian setelah bertolak menggunakan speedboat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Kakak iparnya, Nila Kusuma, mengungkapkan bahwa Ari bukan orang baru dalam peliputan peristiwa berisiko. Pengalaman sebelumnya termasuk tugas liputan konflik di Libya pada tahun 2011.
“Dia biasa meliput kemalangan. Jadi humanity-nya dia itu besar sekali,” ujar Nila saat ditemui di Posko Pencarian Basarnas Banten, Pantai Marina, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis (10/9/2026). Nila menambahkan bahwa kecintaan Ari terhadap jurnalistik juga membawanya meraih penghargaan jurnalistik tingkat dunia pada tahun 2024.
Penghargaan tersebut, menurut Nila, menjadi bukti dedikasi Ari. “Sama pekerjaannya itu cintanya luar biasa. Sama alam Indonesia cintanya luar biasa. Kemudian beliau itu di tahun 2024 memenangkan World Press, yang highest prestige buat jurnalis,” tuturnya.
Di luar kiprah profesionalnya, Ari juga dikenal sebagai anggota keluarga yang sangat diandalkan. Ia hampir selalu menjadi orang pertama yang menawarkan bantuan ketika ada persoalan. “Pokoknya dia selalu bilang, ‘Oke, Mbak. Beres, Mbak. Beres’,” kata Nila menirukan ucapan adiknya.
Nila baru menyadari betapa besar peran Ari dalam keluarga setelah kabar hilangnya sang jurnalis diterima. “Dia tuh selalu jadi orang yang pertama kalau kita mengalami apa pun kondisi,” kenangnya.
Kabar hilangnya Ari pertama kali diketahui Nila setelah istri Ari datang dalam kebingungan. Keluarga kemudian memutuskan untuk mendampingi istri Ari ke Pandeglang dan mendatangi Posko Pencarian Basarnas Banten untuk mengikuti perkembangan operasi pencarian. Mereka berharap Ari dan seluruh rombongan ditemukan dalam kondisi selamat.
Kelima jurnalis yang hilang kontak tersebut adalah M Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis freelance. Mereka bertolak menggunakan speedboat bersama tiga awak kapal dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9/2026).
Kontak terakhir dengan Ari terjadi pada Senin sekitar pukul 13.43 WIB. Sejak saat itu, komunikasi dengannya terputus, menimbulkan kecemasan mendalam bagi keluarga. Nila menyebut kelima jurnalis yang hilang sebagai “pahlawan pena”, mengingat risiko besar yang mereka hadapi untuk menyajikan berita kepada publik.
“Kalau membayangkan lima orang jurnalis itu, mereka pasti pahlawan pena menurut saya. Kita dapat gambar bagus, tapi kita enggak melihat itu dari mana, risiko yang seperti ini,” jelas Nila. Keluarga kini hanya bisa menanti perkembangan operasi pencarian dan berharap Ari serta delapan orang lainnya kembali dengan selamat.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.