Jurnal Indonesia — JAKARTA – Tim SAR gabungan tengah berupaya mencari delapan orang yang dilaporkan hilang di perairan dekat Jakarta sejak Selasa (8/9/2026). Lima dari delapan orang tersebut adalah jurnalis yang sedang bertugas meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Rombongan tersebut diketahui berangkat menggunakan kapal cepat pada Senin sore. Namun, hingga Rabu (9/9/2026), kapal tersebut belum kembali dan pihak pemilik kapal telah kehilangan kontak total dengan seluruh penumpang.
Para jurnalis yang berada di dalam kapal tersebut berasal dari berbagai media nasional dan internasional. Mereka bertugas mendokumentasikan foto dan video erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan lumpuhnya sejumlah bandara serta penyebaran abu vulkanik hingga ke wilayah Jakarta dan sekitarnya. Media yang terkonfirmasi memiliki jurnalis di kapal tersebut antara lain Kantor Berita ANTARA, agen berita Turki Anadolu, dan portal berita iNews.
Kantor Berita ANTARA telah mengonfirmasi bahwa salah satu fotografer mereka, Muhammad Bagus Khoirunas, turut berada di dalam kapal yang hilang kontak tersebut. Pihak redaksi ANTARA terus berkoordinasi dengan kepolisian terkait upaya pencarian, meskipun dilaporkan bahwa kondisi pencarian terhambat oleh gelombang tinggi dan jarak pandang yang minim.
Kepala Kantor SAR setempat, Al Amrad, menjelaskan bahwa kapal tersebut mengangkut total lima jurnalis, dua kru kapal, dan satu orang pemandu. Ia menambahkan bahwa salah satu jurnalis sempat berhasil membagikan titik lokasinya pada Senin pukul 15.00 WIB sebelum akhirnya kontak terputus sepenuhnya.
Proses pencarian yang melibatkan tim SAR, kepolisian, dan pemilik kapal harus dihentikan sementara pada Selasa sore akibat kondisi cuaca buruk. Operasi pencarian dijadwalkan akan dilanjutkan kembali pada Rabu pagi, bergantung pada perbaikan kondisi cuaca.
Gunung Anak Krakatau, yang berlokasi di perairan Selat Sunda, merupakan gunung api aktif yang terbentuk pasca-letusan dahsyat Krakatau pada tahun 1883. Aktivitas vulkaniknya secara rutin memicu guncangan, hujan abu, hingga gelombang laut yang tidak menentu di kawasan sekitarnya. Wilayah perairan ini memang dikenal memiliki karakteristik cuaca yang sangat cepat berubah, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan laut bagi aktivitas pelayaran maupun kegiatan liputan di lapangan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.