— Kota Bogor – Pemerintah Kota Bogor mencatat peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Asma di tengah penyebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Meskipun kualitas udara secara umum dilaporkan membaik dan aman, kewaspadaan tetap diimbau.

Kepala Diskominfo Kota Bogor, Ana Ismawati, menjelaskan bahwa kualitas udara saat ini telah berada dalam kategori aman untuk semua kalangan. “Namun, kami imbau masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan membatasi kegiatan di luar ruangan yang sekiranya kurang perlu,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (9/9/2026).

Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Kota Bogor telah mendistribusikan 190.000 masker kepada masyarakat. Perlindungan kelompok rentan menjadi prioritas utama, dengan sasaran distribusi meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta para pekerja luar ruangan. Selain itu, penguatan surveilans harian dilakukan dengan pelaporan secara real-time dari puskesmas, rumah sakit, klinik pratama, dan Klinik Utama.

Menurut Ana, pemantauan harian terhadap potensi timbulnya penyakit prioritas seperti ISPA dan Asma terus dilakukan. Ia merinci peningkatan kasus yang terjadi. Pada 7 September, tercatat total 1.669 pasien, yang kemudian melonjak menjadi 2.022 pasien pada 8 September.

Secara spesifik, kasus ISPA meningkat dari 1.472 menjadi 1.824 kasus, atau naik sebesar 24 persen. Kasus Asma mengalami kenaikan dari 25 menjadi 29 kasus, sementara dermatitis atau iritasi kulit bertambah dari 70 menjadi 74 kasus. Kasus konjungtivitis atau iritasi mata dilaporkan tetap stabil di angka 36 kasus.

Ana menegaskan bahwa peningkatan kasus kesehatan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk dinamika cuaca, daya tahan tubuh individu, dan perilaku masyarakat. “Hubungan langsung antara kenaikan kasus tersebut dengan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau, masih memerlukan kajian medis lebih mendalam,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa penyebab pasti lonjakan kasus masih memerlukan penelitian lebih lanjut.