— Jakarta – Pameran teknologi World AI Conference (WAIC) di China menjadi saksi peluncuran Kimi K3, model kecerdasan buatan terbaru dari Moonshot AI. Model dengan 2,8 triliun parameter ini dilaporkan mampu menutup ketertinggalan China dari para raksasa teknologi Amerika Serikat seperti OpenAI dan Anthropic.

Peluncuran Kimi K3 pada Jumat lalu tidak hanya memukau pengunjung pameran, tetapi juga menuai decak kagum global. CEO Tesla, Elon Musk, bahkan memberikan pujian atas pencapaian ini. Suvenir Moonshot AI dilaporkan ludes diserbu pengunjung dalam hitungan jam.

Kemunculan Kimi K3 menjadi ajang unjuk gigi bagi industri AI China dan pendirinya, Yang Zhilin. Pria 33 tahun yang merupakan alumni Carnegie Mellon University dan mantan peneliti di divisi AI Meta serta Google Brain ini, kembali menjadi sorotan utama di industri teknologi China.

Berdasarkan data dari Artificial Analysis, kemampuan Kimi K3 secara keseluruhan melampaui sebagian besar pesaingnya. Model ini hanya sedikit tertinggal dari Claude Fable 5 milik Anthropic dan GPT-5.6 dari OpenAI.

Pencapaian Kimi K3 memicu reaksi dari berbagai tokoh teknologi dunia. Elon Musk secara terbuka memuji Kimi K3 sebagai pencapaian yang mengesankan. Sebelumnya, pada Juli 2025, CEO OpenAI Sam Altman sempat menyebut Kimi K2, pendahulu K3, sebagai ancaman bagi kepemimpinan Amerika Serikat dalam pengembangan AI.

Sentuhan Musik Rock dalam Budaya Perusahaan

Yang Zhilin mendirikan Moonshot AI bersama sejumlah ahli teknologi dari Universitas Tsinghua. Uniknya, kecintaan Yang pada musik, terutama rock, sangat kental mewarnai budaya perusahaan.

  • Nama perusahaan dalam bahasa Mandarin diambil dari album favorit Yang, “Dark Side of the Moon” dari Pink Floyd.
  • Versi awal agen AI Kimi diberi nama “OK Computer” sebagai penghormatan untuk band Radiohead.
  • Ruang rapat di kantor Moonshot menggunakan nama-nama band legendaris seperti Led Zeppelin, Queen, dan Nirvana.
  • Paket berlangganan Kimi dinamai berdasarkan tempo musik klasik: Adagio, Andante, dan Moderato.

Perjalanan Menuju Puncak

Perjalanan Moonshot AI tidak selalu mulus. Pada awal 2025, peluncuran model K1.5 bertepatan dengan perilisan DeepSeek R1 yang revolusioner. Hal ini menyebabkan eksodus pengguna dan membuat upaya pemasaran Moonshot senilai puluhan juta dolar menjadi sia-sia.

Menghadapi krisis, Yang merombak strategi. Ia memutuskan untuk membuat model andalan berikutnya bersifat open-source, mengikuti taktik DeepSeek, dan mengalihkan fokus pengguna ke kalangan pemrogram serta pelanggan korporat. Pada Juli 2025, mereka sukses meluncurkan K2 yang menuai pujian global, bahkan memaksa Sam Altman menyebut nama Kimi sebagai bukti ancaman model open-source China terhadap dominasi AS.

Dalam pengembangan Kimi K3, Yang menolak merilis model berukuran kecil. Ia justru memperbesar skala model dari rencana awal 200 miliar menjadi 1 triliun parameter demi performa jangka panjang, yang akhirnya berevolusi menjadi 2,8 triliun parameter pada Kimi K3. Inovasi pengoptimal bernama MuonClip juga diperkenalkan untuk mengurangi kebutuhan daya komputasi secara drastis.