— Pencarian delapan orang yang hilang di perairan Selat Sunda memasuki hari keempat pada Jumat (11/9/2026) tanpa membuahkan hasil. Harapan keluarga korban, yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga awak kapal, terus diuji meski operasi pencarian telah mengerahkan personel dan armada dalam skala besar.

Suasana haru dan ketegangan sempat menyelimuti Posko SAR Pantai Marina, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Jumat sore. Kedatangan kapal RB 02 yang membawa empat koper besar berwarna oranye dan hitam dari laut sempat memicu dugaan bahwa petugas telah menemukan barang-barang milik korban. Namun, harapan tersebut sirna setelah petugas memastikan bahwa koper-koper itu bukan milik rombongan korban, melainkan perlengkapan operasional penyelematan tim SAR.

“Itu alat perlengkapan kita, alat bantu pernapasan,” tegas seorang petugas SAR di Posko SAR Pantai Marina, Jumat.

Kapal RB 02 sendiri telah bertolak dari posko sejak pukul 07.00 WIB untuk menyisir sejumlah titik strategis di Selat Sunda, termasuk kawasan perairan Pulau Sertung. Penyisiran di titik tersebut dilakukan atas permintaan keluarga korban. Sayangnya, penyisiran sepanjang hari tidak membuahkan temuan benda mengapung, jejak kapal, maupun tanda-tanda keberadaan para korban.

Rombongan yang dilaporkan hilang kontak sejak Senin (7/9/2026) tersebut terdiri dari lima insan pers dan tiga awak kapal. Para jurnalis yang berada di kapal adalah M. Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka), Yudistiro (iNews Media Group), Daus (Anadolu), serta Donal (jurnalis lepas).

Kejadian berawal saat rombongan tersebut berangkat menggunakan perahu cepat (speedboat) dari Dermaga Pagedongan, Carita, menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas vulkanik. Komunikasi dengan rombongan terputus total tak lama setelah keberangkatan.

Untuk memaksimalkan pencarian, operasi SAR hari keempat melibatkan lebih dari 300 personel gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, dan sukarelawan. Operasi ini didukung oleh 11 hingga 13 unit kapal serta alat utama sistem senjata (alutsista) laut. Luasnya area sapuan dan dinamika arus perairan Selat Sunda menjadi tantangan utama yang dihadapi tim di lapangan.

Kawasan Selat Sunda, khususnya di sekitar kompleks vulkanik Gunung Anak Krakatau, dikenal memiliki karakter perairan yang dinamis dengan arus kuat dan cuaca yang dapat berubah mendadak. Aktivitas vulkanik gunung api ini kerap menjadi fokus peliputan media massa karena dampaknya yang signifikan terhadap keselamatan pelayaran dan potensi ancaman bencana di wilayah pesisir Banten dan Lampung.

Peliputan jurnalistik di area terisolasi dan berisiko tinggi seperti gunung api aktif di tengah laut menuntut kewaspadaan ekstra serta mitigasi keselamatan yang ketat. Ketiadaan sinyal komunikasi stabil di tengah laut dan hempasan gelombang tinggi seringkali menjadi hambatan utama ketika terjadi kendala teknis pada armada pelayaran.

Peristiwa hilang kontaknya rombongan jurnalis ini menegaskan kembali pentingnya penguatan sistem pemantauan posisi (tracking) serta ketersediaan sarana keselamatan darurat pada setiap pelayaran di wilayah perairan rawan bencana.