Jurnal Indonesia — Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Ruby Chairani Syiffadia, telah menyalurkan bantuan kepada masyarakat Lampung yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Bantuan ini juga ditujukan bagi warga yang mengalami kesulitan air bersih akibat musim kemarau.
Sejak awal September 2026, erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan abu vulkanik menyebar luas di berbagai wilayah Lampung, termasuk Bandar Lampung dan Lampung Selatan. Menanggapi kondisi ini, tim daerah pemilihan Ruby bergerak cepat mendistribusikan bantuan.
Bantuan air bersih disalurkan ke Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Sementara itu, masker dibagikan kepada warga di Bandar Lampung, Tanjung Bintang, dan Natar untuk mengurangi paparan abu vulkanik. “Dalam situasi seperti ini, yang paling penting adalah memastikan masyarakat mendapatkan bantuan yang benar-benar mereka butuhkan. Di satu sisi ada warga yang harus menghadapi paparan abu vulkanik, sementara di sisi lain kebutuhan air bersih meningkat karena kondisi kemarau. Karena itu, kami bergerak dengan membagikan masker sekaligus menyalurkan air bersih,” ujar Ruby dalam keterangan tertulisnya, Kamis (10/9/2026).
Ruby menekankan pentingnya perhatian serius terhadap paparan abu vulkanik, sesuai arahan Presiden Prabowo. Ia menjelaskan bahwa abu vulkanik tidak hanya mengotori lingkungan tetapi juga mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat. “Abu vulkanik bukan hanya membuat lingkungan menjadi kotor, tetapi juga dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat. Ada warga yang mengeluhkan mata perih, tenggorokan tidak nyaman, hingga gangguan pernapasan. Penggunaan masker menjadi salah satu bentuk perlindungan sederhana yang perlu terus kita dorong,” ungkapnya.
Legislator Partai Gerindra ini mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan instansi terkait perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. “Kita tidak ingin masyarakat panik, tetapi kewaspadaan tetap harus dijaga. Ikuti arahan pemerintah, gunakan masker ketika beraktivitas di wilayah yang masih terdampak abu, dan kurangi aktivitas di luar rumah apabila kondisi udara tidak baik,” jelasnya.
Selain dampak erupsi, Ruby juga menyoroti pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap persoalan air bersih, terutama di wilayah yang terdampak musim kemarau. “Air bersih merupakan kebutuhan dasar. Ketika pasokan air mulai terganggu, dampaknya langsung dirasakan keluarga. Karena itu saya meminta tim di lapangan terus berkomunikasi dengan masyarakat untuk melihat wilayah mana yang membutuhkan bantuan berikutnya,” katanya.
Ruby menegaskan bahwa penanganan kondisi darurat memerlukan koordinasi dari seluruh pihak, termasuk pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga terkait, dan masyarakat. “Kondisi seperti ini mengingatkan kita bahwa mitigasi bencana tidak hanya bicara ketika bencana terjadi. Kesiapsiagaan, distribusi bantuan, informasi yang akurat, sampai perlindungan kesehatan masyarakat semuanya harus berjalan bersamaan,” ungkapnya.
Ruby berharap aktivitas Gunung Anak Krakatau segera mereda dan kondisi masyarakat di Lampung dapat kembali normal. “Yang terpenting sekarang adalah kita saling menjaga. Pemerintah terus bekerja, masyarakat tetap waspada, dan semua pihak yang memiliki kemampuan harus ikut membantu. Insyaallah, dengan gotong royong, masyarakat Lampung bisa melewati situasi ini dengan baik,” pungkasnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.