— Nilai tukar rupiah diprediksi masih akan menghadapi tekanan pada perdagangan pekan ini. Sejumlah sentimen global, termasuk penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS), ketegangan geopolitik, dan data pasar tenaga kerja AS yang kuat, berpotensi membayangi pergerakan mata uang Garuda.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. “Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.640 – 17.680,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).

Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian pasar adalah penguatan indeks dolar AS. Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Sentimen eksternal lainnya datang dari meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, di mana militer AS dilaporkan telah menyerang tiga kapal tanker minyak Iran setelah pasukan Iran menargetkan kapal-kapal Angkatan Laut AS dengan rudal balistik.

Selain isu geopolitik, perkembangan ekonomi AS juga menjadi sorotan. Data terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat. Lebih dari 162.000 warga AS masuk ke dalam angkatan kerja pada Agustus, jauh di atas estimasi 56.000. Data Juli juga direvisi naik. Tingkat pengangguran AS tercatat 4,1%, lebih rendah dari estimasi The Fed. Kondisi ini dapat membuat The Fed lebih leluasa memperhatikan perkembangan inflasi. Pelaku pasar akan mencermati data indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) AS yang akan dirilis pekan ini.

“Jika kedua data tersebut menunjukkan tekanan inflasi yang masih tinggi, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed dapat kembali berubah. Kondisi itu berpotensi menopang dolar AS dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah,” tambah Ibrahim.

Sentimen Domestik Memberi Tantangan

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pekan ini menjadi ujian bagi fleksibilitas kebijakan moneter Indonesia. “Tantangannya adalah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan stabilitas rupiah maupun memicu keluarnya modal asing,” jelas Ibrahim.

Pasar juga masih mencermati dampak bencana alam terhadap aktivitas ekonomi domestik. Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9/2026) hingga akhir pekan telah menimbulkan gangguan terhadap sektor penerbangan dan aktivitas masyarakat. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, sebaran abu vulkanik menyebabkan penundaan dan pembatalan lebih dari 1.500 jadwal penerbangan di sedikitnya delapan bandara, berdampak pada sekitar 170.000 penumpang.

Risiko ekonomi domestik juga bertambah dari pembakaran lahan gambut di Kalimantan dan sebagian Sumatra serta mengeringnya Sungai Barito. Kondisi tersebut mengganggu transportasi batu bara dan berpotensi menimbulkan gangguan pada rantai pasok. “Pelaku pasar akan mencermati penanganan bencana sambil terus menghitung potensi dampaknya terhadap aktivitas ekonomi, terutama jika gangguan transportasi dan dibatasinya aktivitas luar rumah berlangsung lebih lama,” ujar Ibrahim.

Selain itu, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi domestik penting pekan ini, di antaranya cadangan devisa Agustus, sentimen konsumen, dan penjualan ritel Juli. Sementara itu, pada perdagangan Senin (7/9/2026), rupiah ditutup menguat tipis 2 poin ke level Rp 17.640 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp 17.642 per dolar AS. Namun, rupiah sempat melemah sekitar 25 poin hingga menyentuh level Rp 17.640 sebelum berbalik menguat tipis pada akhir perdagangan.