— Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan Senin, 7 September 2026. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah global.

Berdasarkan data pasar spot exchange pada pukul 10.13 WIB, rupiah dibuka melemah 25 poin atau 0,14% ke level Rp 17.667 per dolar AS. Indeks dolar AS tercatat naik tipis 0,02% ke level 99,19.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah di awal pekan ini. “Dalam perdagangan pagi ini rupiah melemah, salah satu penyebabnya adalah tensi geopolitik di Timur Tengah,” kata Ibrahim dikutip dari Antara, Senin (7/9/2026).

Ibrahim menambahkan, peningkatan ketegangan geopolitik secara simultan mendorong indeks dolar AS dan harga minyak mentah. Kedua faktor ini memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terpantau naik 0,69% menjadi US$ 92,09 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent menguat 0,56% ke level sekitar US$ 96 per barel.

Kenaikan harga minyak mentah ini dinilai dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk memenuhi kebutuhan impor minyak yang lebih mahal. “Permintaan untuk impor minyak dengan harga yang lebih mahal membuat pemerintah harus mempersiapkan dolar yang cukup banyak. Sehingga wajar kalau dalam transaksi pagi ini rupiah mengalami pelemahan,” ujarnya.

Peningkatan kebutuhan dolar AS di dalam negeri akibat kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan terhadap rupiah. Selain sentimen eksternal, perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menjadi perhatian pasar domestik.

Ibrahim menilai bahwa gangguan terhadap penerbangan akibat aktivitas gunung tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap kegiatan ekonomi, meskipun relatif terbatas. “Walaupun tidak terlalu besar, tapi ini berindikasi terhadap ekonomi di Indonesia. Kita lihat bahwa penerbangan dari tanggal 6 sampai tanggal 7 masih ditutup,” tutur dia.

Sebelumnya, Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) sempat menghentikan sementara operasional penerbangan menyusul meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kebijakan The Fed dan Data Tenaga Kerja AS

Dari sisi global, pelaku pasar juga mencermati prospek kebijakan suku bunga The Fed. Hal ini dipicu oleh data tenaga kerja Amerika Serikat yang menunjukkan kondisi lebih kuat dari perkiraan.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa data tenaga kerja AS yang lebih kuat meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga kebijakan The Fed pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026.

Data nonfarm payrolls AS pada Agustus 2026 tercatat bertambah 162.000, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 55.000. Angka bulan sebelumnya juga direvisi menjadi 21.000, sementara tingkat pengangguran tetap berada di level 4,1%.

“Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan tersebut meningkatkan ekspektasi pasar yang tercermin dalam pricing terhadap kenaikan suku bunga kebijakan menjadi sekitar 60%, dari sekitar 50%, sehingga mendukung penguatan dolar AS,” ujar Josua.

Penguatan dolar AS berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Pasar kini akan mencermati sejumlah data ekonomi AS berikutnya untuk memperkirakan arah kebijakan The Fed.

Di dalam negeri, pelaku pasar juga menantikan sejumlah indikator ekonomi penting, antara lain data cadangan devisa, penjualan eceran, dan indeks keyakinan konsumen.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Josua memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Senin berada dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.725 per dolar AS.