Jurnal Indonesia — Jakarta – Bos OpenAI, Sam Altman, baru-baru ini mengemukakan pandangan mengejutkan bahwa kecerdasan buatan (AI) telah mencapai apa yang disebut sebagai ‘singularitas’. Pernyataan ini muncul di tengah tren peningkatan kemampuan AI yang semakin pesat, mengingatkan pada alur cerita film fiksi ilmiah seperti ‘Transcendence’ dan ‘Ex Machina’ yang menggambarkan titik di mana AI melampaui kecerdasan manusia dan menjadi sulit dikendalikan.
Meskipun Altman menyatakan bahwa momen singularitas ini bisa berdampak positif bagi dunia, komentarnya justru memicu kekhawatiran di kalangan publik dan beberapa pakar. Di sisi lain, tidak semua ahli sepakat bahwa momen tersebut telah tiba, atau bahwa AI sudah mendekati kemampuan manusia untuk mengancam pekerjaan.
Apa Itu Singularitas AI?
Singularitas merujuk pada sebuah titik hipotesis di masa depan ketika teknologi, khususnya AI, melampaui kecerdasan manusia dan memiliki kemampuan untuk meningkatkan dirinya sendiri secara otonom. Pada titik ini, kemajuan teknologi bisa terjadi begitu cepat sehingga sulit bagi manusia untuk mengendalikan, memprediksi, atau bahkan membalikkannya.
Teori ini mengusulkan bahwa begitu AI mengambil alih kendali atas pengembangannya sendiri, kemajuan yang menyusul dapat terjadi dengan kecepatan luar biasa yang tidak dapat diimbangi oleh manusia. Dampak dari singularitas ini masih menjadi perdebatan; beberapa pakar memperingatkan potensi bencana, sementara yang lain melihatnya sebagai peluang untuk kemajuan besar.
Pandangan Sam Altman
Sam Altman, yang merupakan CEO OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT yang kini memiliki lebih dari 900 juta pengguna aktif mingguan, sebelumnya telah memprediksi bahwa AI akan melampaui kecerdasan manusia pada tahun 2030. Dalam podcast ‘Relentless’ baru-baru ini, ia menyatakan keyakinannya bahwa momen singularitas tersebut kini telah tercapai.
“Kita sekarang sepertinya berada di dalam singularitas,” ujar Altman. “Saya menunggu hal ini sepanjang hidup saya, dan saya pikir ini akan menjadi luar biasa, sangat positif, dan mengagumkan bagi dunia.” Ia juga mengkritik para pemimpin AI lain yang kerap memperingatkan potensi bahaya AI, menegaskan akan berupaya agar peringatan tersebut tidak menjadi kenyataan.
Respons dan Kekhawatiran Industri AI
Pernyataan Altman datang di saat industri AI tengah menghadapi berbagai diskusi serius mengenai pengembangannya. Bulan lalu, Anthropic, perusahaan pengembang chatbot Claude, menyerukan agar perusahaan-perusahaan AI terkemuka dunia merumuskan cara terkoordinasi untuk menghentikan sementara pengembangan sistem AI tingkat lanjut. Peringatan ini didasari oleh kekhawatiran bahwa teknologi berkembang terlalu cepat hingga berisiko manusia kehilangan kendali.
Menanggapi potensi risiko, pada 23 Juli, dua anggota Kongres Amerika Serikat memperkenalkan ‘AI Kill Switch Act’. RUU bipartisan ini bertujuan untuk mewajibkan pengembang AI di AS untuk membangun ‘tombol pematian’ pada program mereka, yang dapat digunakan untuk memperlambat, menangguhkan, atau mematikan AI jika menimbulkan risiko.
Pandangan Pakar AI Lain
Namun, pandangan bahwa AI telah mencapai singularitas tidak sepenuhnya disetujui oleh semua pakar. Sean O’Hegartaigh, direktur eksekutif Centre for the Study of Existential Risk di Universitas Cambridge, menyatakan kepada Al Jazeera bahwa ia tidak percaya AI telah mencapai singularitas.
“Berdasarkan definisi yang saya pahami, singularitas adalah titik hipotesis di mana AI begitu mumpuni dan maju sangat cepat sehingga mengubah peradaban dengan cara yang tidak dapat kita kendalikan atau prediksi. Ini kemungkinan besar akan terjadi melalui AI yang dengan cepat merancang generasi AI di masa depan. Kita belum sampai di sana,” jelasnya.
O’Hegartaigh lebih sepakat dengan pandangan ilmuwan komputer Demis Hassabis, yang pada Mei 2026 menyatakan bahwa umat manusia berada di ‘kaki bukit’ singularitas. “Kita tentu mulai melihat terobosan mengesankan dalam matematika dan ilmu pengetahuan lain yang digerakkan AI, tugas seperti pemrograman mulai digerakkan AI dan kita melihat ancaman skala besar di bidang seperti keamanan siber,” tambahnya, menunjukkan bahwa kemajuan memang pesat namun belum mencapai titik singularitas.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.