— Wall Street berhasil bangkit pada perdagangan Jumat (11/9/2026), mengakhiri tren pelemahan yang telah berlangsung selama empat sesi berturut-turut. Investor tampaknya mengabaikan data inflasi Amerika Serikat yang menguatkan spekulasi kenaikan suku bunga oleh The Fed. Sementara itu, pendinginan harga minyak memberikan sentimen positif bagi pasar saham.

Indeks Dow Jones Industrial Average mencatat kenaikan signifikan sebesar 509,19 poin atau 0,98%, ditutup pada 52.573,29. Indeks S&P 500 juga menguat 0,86% ke level 7.656,98, sementara Nasdaq Composite melompat 0,96% menjadi 26.333,04. Kenaikan ini memutus rentetan penurunan terpanjang bagi ketiga indeks utama sejak akhir April.

Meskipun demikian, kinerja mingguan Wall Street secara keseluruhan masih tercatat negatif. Dow Jones turun 1,6% sepanjang pekan, S&P 500 melemah 0,8%, dan Nasdaq terkoreksi sekitar 0,7%, menandai pekan negatif pertama dalam tiga minggu terakhir.

Salah satu faktor pendorong penguatan Wall Street adalah penurunan harga minyak mentah. Setelah melonjak tajam sepanjang pekan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 2,4% menjadi US$ 100,05 per barel. Harga minyak Brent juga merosot 2,8% ke US$ 104,61 per barel. Meskipun demikian, kedua jenis minyak ini masih mencatat kenaikan mingguan yang substansial, dengan WTI melonjak hampir 10% dan Brent naik hampir 9%.

Kenaikan harga energi sebelumnya telah berkontribusi pada tekanan inflasi di AS. Data terbaru menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,4% secara bulanan pada Agustus dan 3,4% secara tahunan, sesuai dengan perkiraan konsensus. Inflasi inti, yang mengecualikan harga energi dan makanan, naik 0,3% dibandingkan bulan sebelumnya, sedikit melampaui ekspektasi.

Data inflasi tersebut tidak memberikan dampak signifikan pada perdagangan saham Wall Street pada Jumat. Namun, pasar obligasi menunjukkan adanya kekhawatiran yang meningkat terkait arah kebijakan moneter The Fed. Imbal hasil obligasi AS atau US Treasury bergerak relatif stabil setelah rilis data inflasi. Meskipun demikian, imbal hasil Treasury tenor dua tahun sempat menembus 4,6%, level tertinggi sejak Juli 2024, yang mencerminkan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga dalam pertemuan kebijakan The Fed pekan depan.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai sekitar 86% untuk pertemuan mendatang. Seema Shah, chief global strategist Principal Asset Management, menyatakan bahwa fokus pasar kini bergeser dari pertanyaan ‘apakah The Fed akan menaikkan suku bunga’ menjadi ‘berapa banyak kenaikan suku bunga yang diperlukan dalam siklus ini’.

Shah menambahkan, pihaknya tidak memperkirakan The Fed hanya akan melakukan satu kali kenaikan suku bunga. “Setelah setengah dekade inflasi berada di atas target, para pembuat kebijakan kemungkinan menyimpulkan bahwa diperlukan lebih dari satu kali kenaikan suku bunga untuk mengembalikan stabilitas harga,” ujarnya.