Jurnal Indonesia — Harga Bitcoin (BTC) terpantau menguat pada perdagangan Sabtu (12/9/2026) pagi. Penguatan ini terjadi meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin menguat setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 07.40 WIB, harga Bitcoin (BTC) tercatat naik 0,56% menjadi US$ 77.250 per koin. Nilai ini setara dengan sekitar Rp 1,36 miliar, dengan asumsi kurs Rp 17.607 per dolar AS.
Kapitalisasi pasar kripto global juga menunjukkan tren positif, menguat 0,99% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 2,64 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar, melesat 1,22%. Selain Bitcoin, Ethereum (ETH) juga melonjak 2,6% menjadi US$ 2.514, dan Binance Coin (BNB) naik 2,21% ke US$ 727.
Dikutip dari CoinDesk, pasar kini semakin memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada pekan depan. Hal ini didorong oleh data inflasi terbaru yang menunjukkan kenaikan. Namun, karena skenario kenaikan suku bunga sudah banyak diperhitungkan oleh investor, dampaknya terhadap aset berisiko seperti Bitcoin dinilai berpotensi lebih terbatas.
Inflasi inti AS pada Agustus tercatat naik 0,3% secara bulanan, angka ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 0,2%. Sementara itu, inflasi umum naik 0,4% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan, sesuai dengan perkiraan pasar. Data ini semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Fitch Ratings menilai data inflasi terbaru membuat The Fed menghadapi kesulitan untuk mempertahankan suku bunga stabil. Global Markets Strategist LMAX Group, Joel Kruger, berpendapat bahwa sebagian besar risiko kebijakan hawkish The Fed sudah tercermin dalam harga pasar. “Sebagian besar risiko kebijakan hawkish The Fed tampaknya sudah diperhitungkan pasar,” kata Kruger.
Menurutnya, respons pasar mungkin akan relatif terbatas jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi. Sebaliknya, kejutan bisa muncul jika bank sentral AS memutuskan untuk menahan suku bunga.
Bitcoin Tetap Diminati di Tengah Ketidakpastian
Senior Crypto Research Strategist 21Shares, Matt Mena, juga menilai bahwa kenaikan suku bunga tidak secara otomatis menjadi tekanan bagi Bitcoin. Berdasarkan pengamatannya, Bitcoin rata-rata mencatat kenaikan 2,13% dalam 30 hari setelah rilis data inflasi inti yang lebih tinggi dari perkiraan.
Pergerakan positif yang ditunjukkan oleh Ethereum dan Solana juga mengindikasikan bahwa investor belum sepenuhnya meninggalkan aset kripto berisiko. Sementara itu, CIO Risk Dimensions, Mark Connors, melihat fenomena kenaikan Bitcoin dan emas di tengah lonjakan imbal hasil obligasi AS sebagai sinyal yang menarik.
Menurut Connors, kenaikan yield obligasi tidak hanya mencerminkan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed, tetapi juga kekhawatiran investor terhadap inflasi, utang pemerintah, dan kredibilitas kebijakan. Dalam kondisi seperti ini, Bitcoin dan emas berpotensi dilirik sebagai alternatif aset yang menarik. “Kita tidak bisa mencetak minyak, dan Anda tidak bisa mendebase Bitcoin,” ujar Connors.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.