— Jakarta – Peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Menanggapi situasi ini, Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk segera berkoordinasi dalam menyiapkan fasilitas kesehatan yang memadai.

Wakil Ketua Komisi IX DPR, Yahya Zaini, menekankan pentingnya kesiapsiagaan fasilitas kesehatan. “Saya minta Kemenkes berkoordinasi dengan pemda setempat untuk menyiapkan sarana rumah sakit, tenaga medis, tenaga kesehatan dan obat-obatan yang diperlukan untuk mengobati penyakit ISPA yang mulai diderita oleh warga,” ujarnya saat dihubungi pada Kamis (10/9/2026).

Lebih lanjut, Yahya Zaini juga mengimbau agar fasilitas kesehatan tidak melakukan penolakan terhadap pasien yang menderita ISPA. Ia secara spesifik meminta puskesmas dan rumah sakit untuk mengutamakan pelayanan pasien, sementara urusan administrasi dapat menjadi prioritas kedua. “Puskesmas dan Rumah Sakit tidak boleh menolak pasien yang ingin berobat. Utamakan pelayanan, masalah administrasi nomor dua,” tegasnya.

Masyarakat dihimbau untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, termasuk penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan guna melindungi pernapasan dari paparan abu vulkanik. Selain itu, penggunaan kacamata disarankan untuk mencegah iritasi mata. Kemenkes dan Pemda diharapkan terus gencar melakukan sosialisasi mengenai dampak kesehatan dari abu vulkanik ini.

Sebelumnya, beberapa wilayah telah mencatat kenaikan signifikan kasus ISPA akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Di Lampung, tercatat ada 76 kasus hingga Selasa (8/9). Sementara itu, di Provinsi Banten, kenaikan kasus ISPA dilaporkan mencapai 2,5 kali lipat dari kondisi normal. Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Banten, lonjakan kasus ini dipicu oleh paparan abu vulkanik.

Gubernur Banten, Andra Soni, mengkonfirmasi peningkatan tersebut kepada wartawan pada Rabu (9/9). Ia menyatakan, “Laporan dari Dinkes, ada meningkat 2,5 dari biasanya terkait ISPA di Provinsi Banten.” Kenaikan ini menyebabkan jumlah kasus ISPA di Banten melonjak drastis dari kisaran normal sekitar 2.000 kasus menjadi sekitar 4.500 kasus berdasarkan laporan di lapangan.