Jurnal Indonesia — SERANG – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Provinsi Banten dilaporkan melonjak signifikan, mencapai sekitar 2,5 kali lipat dari kondisi normal. Lonjakan ini terjadi setelah wilayah tersebut terdampak oleh abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Banten menunjukkan adanya 4.058 kasus ISPA pada 7 September 2026, jauh melampaui angka harian biasa yang berkisar antara 1.000 hingga 1.500 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti, mengonfirmasi bahwa lonjakan kasus ISPA tersebut tercatat pada 7 September 2026. “Kasus ISPA ini biasanya di hari-hari biasa sekitar 1.000 sampai dengan 1.500. Tetapi pada tanggal 7 tercatat sekitar 4.058 kasus,” ujar Ati pada Selasa (8/9/2026).
Peningkatan kasus ISPA paling banyak ditemukan pada kelompok usia produktif. Hal ini diduga berkaitan dengan aktivitas dan mobilitas masyarakat yang masih tinggi di luar rumah. Meskipun telah ada imbauan untuk mengurangi aktivitas di luar gedung pada Selasa (8/9/2026), warga usia produktif yang bekerja tetap melakukan mobilisasi.
“Yang terbanyak memang di dewasa karena alur transportasi, mobilitas masyarakat. Meskipun sudah ada larangan untuk mengurangi aktivitas di luar gedung, usia produktif yang mereka bekerja melakukan mobilisasi di luar rumah,” jelas Ati.
Dinas Kesehatan Banten terus memantau perkembangan kasus ISPA. Untuk meminimalkan risiko paparan abu vulkanik, pembelajaran jarak jauh (PJJ) disarankan untuk tetap diberlakukan hingga pekan ini. Kebijakan PJJ ini kemudian diperpanjang hingga Jumat, sesuai dengan arahan Gubernur Banten.
Apabila pembelajaran tatap muka akan kembali dimulai pada Senin, sekolah diminta untuk terlebih dahulu melakukan pembersihan lingkungan sekolah dari abu vulkanik. Ati menekankan bahwa pembersihan abu vulkanik memerlukan teknik khusus yang berbeda dengan pembersihan debu biasa.
“Kalau PJJ selesai dan Senin sudah mulai tatap muka, sebelum pelaksanaan sekolah tatap muka perlu dilakukan pembersihan. Teknik cara membersihkan sekolah dari abu vulkanik berbeda dengan cara membersihkan abu atau debu lainnya,” terangnya.
Selain itu, Dinas Kesehatan Banten juga mengimbau masyarakat untuk tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan guna mengurangi paparan abu vulkanik, terutama bagi mereka yang harus melakukan perjalanan atau bekerja di luar rumah.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.