Jurnal Indonesia — Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di dunia usaha mulai bergeser dari sekadar eksperimen menuju penerapan yang dituntut menghasilkan dampak terukur terhadap produktivitas, kualitas layanan, dan pengambilan keputusan. Isu ini mengemuka dalam diskusi “AI@Work Lab pada IdeaFest 2026” yang membahas tantangan perusahaan dalam mengintegrasikan AI ke proses kerja serta dampaknya terhadap perubahan peran tenaga teknologi.
CEO dan Co-Founder PT Dana Digital Group (DANA Indonesia), Vince Iswara, mengatakan bahwa keberhasilan adopsi AI seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa luas teknologi digunakan, tetapi dari kemampuannya menyelesaikan persoalan bisnis dan menghasilkan perubahan yang dapat diukur.
“Adopsi AI bukan lagi tujuan akhir. Nilainya baru tercipta ketika teknologi tersebut membantu menyelesaikan persoalan yang nyata, memperbaiki kualitas keputusan, dan memberikan hasil yang dapat diukur,” ujarnya dalam sesi diskusi bersama Founder Genesis & Sevenpreneur, Raymond Chin pada Minggu (06/09/2026).
Menurut Vince, peran manusia tetap penting untuk menentukan konteks, menjaga kualitas, mengelola risiko, serta bertanggung jawab terhadap hasil yang dihasilkan AI.
DANA menyebut sekitar 80%–90% kode di perusahaan saat ini dibuat dengan dukungan AI. Meski demikian, perusahaan menegaskan software engineer tetap bertanggung jawab dalam merumuskan masalah, merancang arsitektur sistem, melakukan validasi, memastikan keamanan, dan mengambil keputusan akhir.
Sepanjang 2025, perusahaan mengklaim penerapan agentic AI pada sejumlah proses operasional meningkatkan produktivitas hingga 57%, kepuasan pelanggan 13%, dan mempercepat penyelesaian layanan 10%.
Namun, penerapan AI juga menuntut kesiapan organisasi, terutama dalam tata kelola, pengawasan, dan penetapan akuntabilitas. Perusahaan perlu memastikan penggunaan AI memiliki tujuan yang jelas, parameter keberhasilan, serta mekanisme pengendalian risiko.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah smart friction, yakni penambahan lapisan verifikasi pada aktivitas yang dinilai memiliki indikasi risiko lebih tinggi.
DANA menyebut penerapan pendekatan tersebut, yang dilakukan dengan dukungan kolaborasi bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), berkontribusi terhadap penurunan aktivitas yang terindikasi terkait perjudian daring di platform hingga 80% sepanjang 2025.
Perubahan akibat AI juga dinilai mulai memengaruhi kebutuhan kompetensi tenaga teknologi. CTO DANA Indonesia, Norman Sasono, menjelaskan bahwa kemampuan coding tetap penting, tetapi nilai tambah tenaga teknologi kini makin bergeser ke pemahaman bisnis, pemecahan masalah, perancangan sistem, pengambilan keputusan, serta kemampuan mempertanggungjawabkan hasil.
“AI dapat membantu menjawab how, tetapi engineer tetap bertanggung jawab atas why, what, dan what could go wrong,” katanya dalam sesi diskusi bersama CTO Google Cloud Indonesia, Sai Prasad Kolluri, dan Founder ASSAI, Abil Sudarman.
Menurut Norman, ketika proses penulisan kode makin mudah dibantu AI, kemampuan memahami konteks dan menggunakan penilaian yang tepat justru menjadi makin penting.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tantangan adopsi AI di perusahaan tidak lagi hanya berkaitan dengan kecepatan penggunaan teknologi, tetapi juga dengan kemampuan menghasilkan manfaat bisnis, menjaga tata kelola, serta menyiapkan tenaga kerja yang mampu bekerja berdampingan dengan AI.
Ke depan, efektivitas implementasi AI akan sangat bergantung pada sejauh mana perusahaan dapat menghubungkan teknologi dengan kebutuhan bisnis, mengukur hasilnya secara objektif, dan menjaga akuntabilitas manusia dalam setiap proses pengambilan keputusan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.