— Presiden Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), Toshiyuki Onuma, mengapresiasi modernisasi teknologi navigasi udara serta inovasi keselamatan yang diterapkan oleh AirNav Indonesia. Kunjungan kerja ini dilakukan di kantor pusat AirNav Indonesia, Tangerang.

Dalam kunjungannya, Toshiyuki Onuma meninjau langsung fasilitas New Jakarta Air Traffic Services Center (JATSC), termasuk New Air Traffic Management Automation System (ATMAS). Sistem ini dikembangkan untuk mendukung pengelolaan lalu lintas udara yang terintegrasi.

Presiden ICAO didampingi oleh sejumlah pejabat penting, antara lain Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F Laisa, Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno, Direktur Keselamatan, Keamanan dan Standardisasi Capt. Nurcahyo Utomo, serta Direktur Teknik Zainal Arifin Harahap.

New JATSC dipilih sebagai fasilitas yang dipresentasikan kepada Presiden ICAO untuk menunjukkan kapabilitas AirNav Indonesia dalam mengelola ruang udara Indonesia yang luas dan kompleks. AirNav Indonesia juga memaparkan pengembangan New ATMAS serta pemanfaatan teknologi terkini untuk mendukung pengelolaan trafik, kapasitas pelayanan, dan keselamatan penerbangan.

Capt. Avirianto Suratno menjelaskan bahwa modernisasi Air Traffic Management (ATM) adalah bagian dari transformasi AirNav Indonesia. Tujuannya adalah memastikan pelayanan navigasi penerbangan mampu mengimbangi pertumbuhan trafik dan perkembangan teknologi penerbangan.

“Bagi AirNav Indonesia, modernisasi ATM bukan sekadar mengganti atau menambah teknologi. Yang kami bangun adalah kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai sistem dan informasi agar pengelolaan trafik udara dapat dilakukan secara lebih utuh, cepat, dan tepat. Dengan New ATMAS, kami ingin memastikan kapabilitas ATM terus berkembang mengikuti kebutuhan trafik, teknologi, dan tuntutan keselamatan,” ujar Avirianto.

AirNav Indonesia memiliki tanggung jawab mengelola pelayanan navigasi penerbangan di wilayah Jakarta dan Ujung Pandang Flight Information Region (FIR). Wilayah ini membentang sekitar 5.100 kilometer dari barat ke timur, mencakup luas ruang udara sekitar 7,79 juta kilometer persegi dan meliputi lebih dari 17.000 pulau.

Setiap hari, AirNav Indonesia menangani rata-rata 5.000 penerbangan dan berkoordinasi dengan 10 FIR negara lain. Kompleksitas ini menuntut koordinasi yang tinggi dengan lingkungan penerbangan regional.

New ATMAS mengintegrasikan berbagai fungsi utama dalam pengelolaan lalu lintas udara. Sistem surveillance menggabungkan data dari radar dan Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B). Sementara itu, teknologi datalink mendukung Controller-Pilot Data Link Communications (CPDLC) dan Aircraft Data Link Communications (ADS-C).

Dari sisi keselamatan, sistem ini dilengkapi dengan fitur safety-net seperti Short Term Conflict Alert (STCA), Area Proximity Warning (APW), dan Approach Path Monitoring (APM). Integrasi ini memberikan informasi trafik yang lebih lengkap kepada petugas pengatur lalu lintas udara (controller) untuk memantau kondisi, menganalisis situasi, dan mengambil keputusan operasional.

New ATMAS juga terhubung dengan fungsi pengelolaan informasi aeronautika dan kapasitas trafik, termasuk Aeronautical Information Management (AIM) dan Air Traffic Flow Management (ATFM).

Dalam aspek komunikasi data, AirNav Indonesia memanfaatkan Aeronautical Message Handling System (AMHS) untuk pertukaran flight plan, pesan ATS, informasi meteorologi, NOTAM (Notice to Airmen), dan Aeronautical Information Circular (AIDC). Sistem ini juga terhubung langsung dengan Singapura dan Australia.

Lebih lanjut, AirNav Indonesia mengembangkan ATS Interfacility Data Communication (AIDC) untuk memfasilitasi pertukaran data penerbangan antar-fasilitas pelayanan lalu lintas udara. Uji teknis AIDC untuk Jakarta FIR dijadwalkan pada tahun 2026, sebelum implementasi penuh pada 2027.

Direktur Teknik AirNav Indonesia, Zainal Arifin Harahap, menyatakan bahwa modernisasi sistem terintegrasi yang menyatukan berbagai fungsi utama navigasi penerbangan ini berjalan relatif lebih cepat dibandingkan negara lain.

“Mereka cukup apresiasi, bahkan cukup impressed dengan capaian-capaian kita. Mereka mengharapkan kita bisa memberikan kontribusi kepada negara-negara yang ada di ICAO di Asia Pasifik maupun di Afrika,” kata Zainal kepada wartawan.