Jurnal Indonesia — Krisis pasokan chip memori secara global menjadi pemicu utama kenaikan harga telepon seluler (ponsel) sepanjang tahun ini. Akibatnya, konsumen disarankan untuk memprioritaskan ponsel dengan daya tahan baterai kuat dan ketahanan tinggi yang dapat bertahan lebih lama serta memberikan nilai jangka panjang yang lebih baik.
Menunda pembelian ponsel dinilai bukan langkah realistis. Para pakar industri memprediksi harga chip tidak akan kembali normal seperti pada 2025, bahkan diperkirakan terus melambung hingga 2030 seiring dengan lonjakan permintaan chip untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).
“Era smartphone ultramurah telah berakhir. Artinya, hanya vendor yang mampu menyesuaikan strategi dengan struktur biaya baru dan menjaga permintaan di tingkat harga lebih tinggi yang akan bertahan,” kata Senior Research Director for Worldwide Consumer Devices IDC Nabila Popal. Ia menyarankan konsumen untuk mengutamakan spesifikasi ponsel yang memiliki daya tahan baterai dan ketahanan. Menunda pembelian sambil menunggu harga turun bukan langkah yang realistis karena harga memori diproyeksikan tidak akan kembali ke tingkat 2025, bahkan setelah pasokan normal.
IDC memperkirakan pabrik memori baru baru akan berproduksi penuh pada 2027, sehingga tekanan harga memori berlanjut setidaknya hingga 2028. Sejumlah eksekutif produsen memori bahkan memperingatkan ketimpangan pasokan bisa bertahan hingga melewati 2030.
Oleh karena itu, karena tekanan ini berlangsung bertahun-tahun, yang lebih masuk akal adalah mengubah cara memilih ponsel. Periksa berapa lama produsen menjanjikan pembaruan sistem dan keamanan, bukan berapa besar RAM-nya. Pantau bagaimana ponsel bekerja setelah setahun pemakaian, bukan seberapa baru chipset-nya. Nilai daya tahan baterai dalam pemakaian sehari-hari, bukan angka kapasitas di brosur.
“Perhatikan ketahanan fisik dan ketersediaan suku cadang, karena keduanya menentukan berapa lama ponsel layak dipakai,” tambah Popal.
Senior Analyst Counterpoint Research Shenghao Bai menambahkan, penyesuaian tidak berhenti di memori. Perubahan juga akan menyentuh komponen lain. “Pada sejumlah model, kami melihat penurunan komponen seperti modul kamera,” ujarnya.
Bai menyebut hal serupa terjadi pada layar, komponen audio, dan konfigurasi memori. Hal ini menunjukkan bahwa cara lama menjual produk lewat perbandingan spesifikasi sudah kehilangan daya tarik. “Dua praktik menjadi penting, mengumumkan setiap perubahan konfigurasi secara terbuka, dan mengandalkan optimisasi perangkat lunak untuk menjaga kualitas pengalaman pengguna,” tegas Bai.
Kalah Bersaing dengan Pusat Data AI
Kenaikan harga chip memori terjadi karena produsen chip memindahkan kapasitas produksi DRAM dan NAND ke chip memori pita lebar tinggi (HBM) untuk pusat data kecerdasan buatan. Margin yang diperoleh produsen di AI disebut lebih menarik, sehingga pasokan untuk elektronik konsumen menyusut.
Berdasarkan laporan IDC, chip memori untuk pusat data AI kini menyerap sekitar 70% produksi memori global, dengan margin 3-5 kali lebih tinggi dibanding memori konsumen. Sementara, pasokan DRAM pada 2026 hanya tumbuh 16% dan NAND 17%, di bawah rentang 20%-30%, sementara permintaan terus naik.
Vice President for Worldwide Client Devices IDC Francisco Jeronimo menuturkan, kondisi ini sebagai guncangan yang berasal dari rantai pasok memori. “Kelangkaan memori, yang secara luas dianggap sebagai gangguan rantai pasok yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ungkap Jeronimo.
Ia menilai, kondisi ini akan menekan pasar sepanjang 2026, dan kelangkaan tersebut yang menentukan seberapa dalam pasar smartphone turun. “Di awal 2026, penurunan pengiriman global diperkirakan hanya 1%-5%. Pada Juni, IDC merevisinya menjadi 13,9%. Proyeksi terkini menempatkannya di 16,7%, ini penurunan tahunan paling tajam dalam sejarah industri smartphone,” tutur Jeronimo.
Dampak Pasar Indonesia
Laporan tersebut juga mengungkapkan, volume penjualan di Indonesia masih ditopang segmen entry-level dan kelas menengah. Karena itu, pasar domestik lebih rentan dibanding pasar yang didominasi ponsel premium.
Counterpoint melaporkan, pengiriman smartphone di Indonesia turun 9% secara tahunan pada kuartal I-2026, karena konsumen menunda ganti ponsel. Kenaikan harga di pasar Indonesia berkisar 7% hingga 45%, menyentuh model lama maupun produk baru.
Tak hanya itu, segmen entry-level di bawah US$150 (sekitar Rp2,7 juta) turun 19% secara tahunan. Sebaliknya, segmen premium di atas US$ 600 (sekitar Rp10,6 juta) mencetak rekor kontribusi tertinggi 8,3% dari total pengiriman, tumbuh 30% secara tahunan.
Dampak tersebut mengakibatkan, sebagian konsumen beralih ke ponsel bekas dan refurbished karena menunda pembelian perangkat baru. Menariknya, penurunan ini terjadi justru saat indikator ekonomi Indonesia membaik. Artinya, pemicunya adalah biaya komponen, bukan semata daya beli.
“Segmen entry-level paling terpukul. Konsumen di segmen ini memilih menunda pembelian atau beralih ke ponsel bekas,” ungkap Shilpi Jain, Senior Analyst, Counterpoint Research dalam riset Indonesia Smartphone Tracker Q1 2026.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.