— JAKARTA – Harga smartphone terus merangkak naik sepanjang 2026, dipicu oleh kelangkaan pasokan chip memori global. Situasi ini bukan sekadar gangguan produksi biasa, melainkan pengalihan lini DRAM dan NAND oleh produsen memori ke chip untuk pusat data kecerdasan buatan yang menawarkan margin keuntungan lebih besar.

Kenaikan biaya komponen tersebut memaksa produsen ponsel untuk menyesuaikan spesifikasi agar harga tetap terjangkau. Akibatnya, konsumen kini dituntut untuk memiliki cara pandang baru dalam menilai sebuah ponsel, tidak lagi sekadar angka kapasitas RAM, melainkan pada seberapa lama perangkat tersebut dapat diandalkan.

Senior Research Director for Worldwide Consumer Devices IDC, Nabila Popal, menyatakan bahwa struktur biaya baru ini bersifat permanen. Oleh karena itu, baik ekspektasi konsumen maupun strategi produsen perlu melakukan penyesuaian.

“Era smartphone ultramurah telah berakhir. Artinya, hanya vendor yang mampu menyesuaikan strategi dengan struktur biaya baru dan menjaga permintaan di tingkat harga lebih tinggi yang akan bertahan,” ujar Popal dalam keterangan persnya, dikutip Kamis (10/9/2026).

Mencermati kondisi tersebut, IDC menyarankan konsumen untuk lebih mengutamakan spesifikasi ponsel yang memiliki daya tahan baterai dan ketahanan perangkat secara keseluruhan. Menunda pembelian dengan harapan harga akan turun dinilai bukan langkah yang realistis, sebab IDC memperkirakan harga memori tidak akan kembali ke tingkat seperti tahun 2025, bahkan setelah pasokan kembali normal.

Alasannya, pabrik memori baru diperkirakan baru akan berproduksi penuh pada 2027. IDC juga memproyeksikan tekanan harga memori akan berlanjut setidaknya hingga 2028. Sejumlah eksekutif produsen memori bahkan memperingatkan bahwa ketimpangan pasokan bisa bertahan hingga melewati 2030.

Karena tekanan ini diperkirakan berlangsung bertahun-tahun, cara yang lebih masuk akal adalah mengubah pendekatan dalam memilih ponsel. Konsumen disarankan untuk memeriksa berapa lama produsen menjanjikan pembaruan sistem dan keamanan, bukan hanya melihat besaran RAM. Penting pula untuk memantau bagaimana kinerja ponsel setelah setahun pemakaian, ketimbang hanya melihat seberapa baru chipset-nya. Selain itu, nilai daya tahan baterai dalam penggunaan sehari-hari, bukan hanya angka kapasitas di brosur.

“Perhatikan ketahanan fisik dan ketersediaan suku cadang, karena keduanya menentukan berapa lama ponsel layak dipakai,” tambah Popal.

Lebih lanjut, ketika biaya komponen melonjak, produsen smartphone dihadapkan pada dua pilihan: menaikkan harga atau menyesuaikan konfigurasi. Sepanjang 2026, kedua strategi ini terjadi bersamaan. Prioritas pun bergeser dari sekadar menambah kapasitas setiap tahun menjadi memilih spesifikasi yang paling relevan untuk pemakaian harian.

Senior Analyst Counterpoint Research, Shenghao Bai, menambahkan bahwa penyesuaian tidak hanya berhenti pada sektor memori. Perubahan juga akan menyentuh komponen lain. “Pada sejumlah model, kami melihat penurunan komponen seperti modul kamera,” ujarnya.

Bai menyebutkan hal serupa terjadi pada layar, komponen audio, dan konfigurasi memori. Hal ini mengindikasikan bahwa cara lama dalam menjual produk melalui perbandingan spesifikasi mentah sudah kehilangan daya tariknya.

“Dua praktik menjadi penting, yaitu mengumumkan setiap perubahan konfigurasi secara terbuka, dan mengandalkan optimisasi perangkat lunak untuk menjaga kualitas pengalaman pengguna,” tegas Bai.