— JAKARTA – PT AKR Indonesia Tbk (AKRA) dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) berambisi menjadikan bisnis gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) sebagai mesin pertumbuhan baru, melengkapi lini bisnis inti masing-masing perusahaan.

AKRA memperkuat lini bisnis LNG dengan menggandeng BW FSRU VII Pte. Ltd., sebuah entitas dari BW Group, sebagai mitra strategis. Kolaborasi ini melahirkan perusahaan patungan (joint venture/JV) bernama PT Andalanesa Energi Primer. Perusahaan ini akan fokus menggarap proyek floating storage regasification unit (FSRU) untuk LNG dengan estimasi nilai investasi mencapai US$400-450 juta.

Jika dikonversikan dengan kurs saat ini Rp17.620 per US$, total investasi untuk bisnis LNG ini diperkirakan mencapai sekitar Rp7,92 triliun. Proyek bernilai jumbo tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada semester II-2029. Fasilitas ini diharapkan dapat terhubung dengan terminal LNG berkapasitas hingga 4 MTPA, serta memberikan dukungan bagi kawasan industri terintegrasi Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Gresik dan area sekitarnya.

Ignatius Teguh Prayoga, Kepala Investor Relations AKR Corporindo, menjelaskan bahwa AKRA memang mengembangkan bisnis LNG melalui kemitraan dengan beberapa pihak. Selain BP Gas & Power Investments Limited (BP), kerja sama terbaru dengan anak usaha BW Group ini menjadi langkah strategis.

“Kami sudah menandatangani kontrak dengan HD Hyundai Heavy Industries untuk pembangunan FSRU berkapasitas 170 ribu meter kubik pada awal Juli kemarin. Kami berharap FSRU ini dapat mendukung terminal LNG kami di paruh kedua 2029,” ujar Yoga dalam konferensi pers virtual, Selasa (8/9/2026).

Selain mengandalkan LNG sebagai sumber pertumbuhan masa depan, Arum Pawestri Handayani, Sekretaris Perusahaan AKRA, menambahkan bahwa perseroan juga secara bertahap mengembangkan utilitas industri, energi surya, Bahan Bakar Minyak (BBM) ritel, dan avtur. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya AKRA untuk memperluas pilihan energi bagi para pelanggan.

“Seluruh investasi ini kami lakukan berdasarkan kebutuhan pelanggan, kelayakan investasi, dan disiplin alokasi modal,” imbuh Arum.

Ke depan, AKRA melihat tiga katalis utama yang berpotensi mendukung pertumbuhan perseroan. Pertama, kelanjutan hilirisasi dan peningkatan aktivitas industri. Kedua, kebutuhan untuk memperkuat ketahanan energi melalui infrastruktur penyimpanan dan distribusi yang andal. Ketiga, transisi bertahap menuju sumber energi yang lebih beragam.

Arum menambahkan, dalam 3-5 tahun mendatang, AKRA akan tetap fokus pada beberapa strategi prioritas. Ini termasuk memperkuat bisnis inti perdagangan dan distribusi BBM serta kimia dasar dengan menjaga keandalan pasokan, serta meningkatkan volume secara selektif sambil mengoptimalkan jaringan logistik.

Perseroan juga akan terus mengembangkan dan memonetisasi JIIPE. Upaya ini meliputi penjualan lahan, peningkatan aktivitas pelabuhan, dan pertumbuhan pendapatan berulang (recurring income) dari sektor utilitas seiring dengan bertambahnya jumlah tenant. Pada semester I-2026, JIIPE berhasil menjual lahan seluas sekitar 58 hektare kepada perusahaan kimia dan manufaktur asal Tiongkok, serta perusahaan pengolahan gandum dalam negeri.

RAJA Lakukan Akuisisi

Manuver penguatan bisnis LNG juga dilakukan oleh RAJA. Melalui entitas usahanya, PT Raharja Gas Kasuri, emiten yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro ini mengakuisisi 5% saham PT Layar Nusantara Gas (LNG) dari Genting LNG Pte. Ltd. pada Jumat (4/9/2026).

Penandatanganan akta jual beli saham (share sale and purchase agreement/SSPA) antara PT Raharja Gas Kasuri dan Genting LNG Pte. Ltd. telah dilakukan pada 29 April 2026. “Transaksi ini dilakukan dalam rangka pengembangan bisnis perseroan dan merupakan bagian dari kemitraan strategis dengan Grup Genting Berhad dalam pengembangan dan operasional Floating LNG (FLNG),” jelas Yani Pattinasarani, Sekretaris Perusahaan RAJA.

RAJA tidak merinci nilai transaksi akuisisi 5% saham tersebut. Namun, Yani menegaskan bahwa transaksi ini tidak memberikan dampak signifikan terhadap kondisi keuangan maupun kegiatan usaha perseroan. Hingga 30 Juni 2026, RAJA mencatatkan ekuitas sebesar US$263,56 juta dan liabilitas senilai US$362,59 juta, yang terdiri dari liabilitas jangka pendek US$129,12 juta dan jangka panjang US$233,47 juta. Kas dan setara kas akhir periode tercatat sebesar US$123,77 juta.

Target Harga Saham

Kiwoom Sekuritas merekomendasikan beli saham AKRA dengan target harga 12 bulan ke depan sebesar Rp1.565 per saham. Angka ini merupakan revisi turun dari target sebelumnya Rp1.690. Penyesuaian ini mempertimbangkan koreksi harga saham AKRA yang cukup signifikan belakangan ini, yang justru dinilai memperbaiki profil risk-reward saham tersebut.

Kiwoom juga menurunkan target rasio P/E menjadi 12x dari sebelumnya 14x, sebagai refleksi pandangan yang lebih konservatif terhadap sektor ini. Valuasi ini mengimplikasikan proyeksi 2026 dengan P/E 12,11x, P/BV 1,94x, dan EV/EBITDA 8,21x. Menurut Kiwoom, jika dibandingkan dengan perusahaan sejenis maupun rata-rata historis, saham AKRA saat ini tergolong murah (undervalued).

Namun, Kiwoom mengingatkan adanya beberapa risiko yang perlu diwaspadai. Risiko tersebut meliputi fluktuasi harga komoditas, persaingan yang semakin ketat, ketergantungan pada sektor industri, perubahan regulasi, potensi gangguan logistik, fluktuasi nilai tukar, serta tekanan terkait isu Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) serta transisi energi.

Terkait ESG, AKRA berkomitmen untuk terus memperkuat pengelolaannya melalui tiga fokus utama: logistik energi yang andal, efisien, dan bertanggung jawab; ekosistem industri yang menciptakan nilai bersama; serta tata kelola yang kuat dalam setiap pengambilan keputusan bisnis. Kinerja ESG AKR Corporindo tercermin dari peringkat MSCI ESG AA dan skor Risiko ESG Sustainalytics 20,9 atau kategori Medium Risk.

AKRA juga terus mengintegrasikan tata kelola keberlanjutan ke dalam strategi dan pengawasan perseroan. Perusahaan berkomitmen membagikan dividen kepada pemegang saham dengan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio/DPR) sekurang-kurangnya 30% dari laba bersih.