— JAKARTA – Saham PT Timah Tbk (TINS) mengalami pelemahan 1,79% ke level Rp 4.400 pada perdagangan Selasa (8/9/2026), diiringi aksi jual bersih investor asing senilai Rp 46,30 miliar. Pelemahan ini berbalik dari tren positif tiga hari bursa sebelumnya.

Meskipun demikian, saham emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini tercatat melonjak 9,73% dalam sepekan terakhir, dengan catatan pembelian bersih investor asing sebesar Rp 81,96 miliar. Maybank Sekuritas menilai saham Timah berpotensi menjadi proxy tema kecerdasan buatan (AI), menjadikannya menarik untuk dipertimbangkan.

Maybank Sekuritas menyoroti katalis positif seperti kenaikan harga timah dunia (LME Tin) dan perbaikan kinerja keuangan perusahaan. Dengan porsi ekspor mencapai 97%, peningkatan harga timah global diprediksi akan menjadi pendorong utama. Rencana produksi bijih timah, logam timah, dan volume penjualan logam timah sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun 2026 diharapkan menjadi penggerak pendapatan yang signifikan, membuka peluang dividen yang lebih besar.

Sebagai gambaran, PT Timah Tbk telah membagikan dividen untuk tahun buku 2025 sebesar Rp 656,81 miliar atau Rp 88,18 per saham.

Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mengulas kinerja PT Timah Tbk (TINS) selama semester I-2026. Pendapatan perusahaan melonjak 247% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 10,42 triliun dari Rp 4,22 triliun pada periode yang sama tahun 2025.

Laba bersih TINS pada semester I-2026 meroket 805% yoy menjadi Rp 2,71 triliun, melampaui target tahunan 2026. Kinerja ini didorong oleh peningkatan produksi bijih timah sebesar 75% yoy menjadi 12.232 ton Sn, serta volume penjualan logam timah yang naik 85% yoy menjadi 10.984 MT. Total aset perusahaan tumbuh 21% year to date (ytd) menjadi Rp 16,45 triliun, dengan ekuitas naik 25% ytd menjadi Rp 10,55 triliun.

Sebanyak 97% penjualan berasal dari ekspor, dengan dominasi tujuan pasar Tiongkok (48%), India (11%), dan Korea Selatan (10%).

Menurut BRIDS, pendorong utama kinerja PT Timah Tbk adalah harga rata-rata timah LME pada semester I-2026 yang mencapai US$ 50.319 per metrik ton, naik 56,68% yoy dan berada pada level premium. Pasar global saat ini mengalami defisit timah sebesar 5.720 ton.

BRIDS memperkirakan sisa pengiriman pada semester II-2026 akan marjinal untuk mencapai proyeksi laba bersih BRIDS tahun 2026 sebesar Rp 3,36 triliun. Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah potensi kenaikan tarif royalti, yang meskipun belum diimplementasikan, memberikan tekanan pasar yang signifikan.

Dari sisi valuasi, P/E (Price to Earnings) annualized saham TINS saat ini berada di angka 6,7x, yang dianggap sangat murah mengingat pertumbuhan laba bersih sebesar 805% yoy. BRIDS merekomendasikan beli saham TINS dengan target harga Rp 4.500, berdasarkan valuasi 10x P/E FY26F.