Jurnal Indonesia — PT Antam Tbk (ANTM) terus mengukuhkan posisinya sebagai pemain utama dalam bisnis emas di Indonesia. Pada semester I-2026, perseroan berhasil membukukan penjualan emas senilai Rp 50,1 triliun, yang menyumbang sekitar 80% dari total pendapatan. Keberhasilan ini mendorong Antam untuk meningkatkan kapasitas manufaktur logam mulia hingga 30–40 ton per tahun guna menangkap peluang pertumbuhan permintaan emas domestik yang terus meningkat.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Arini Kasmira, menyatakan bahwa bisnis emas tetap menjadi tulang punggung kinerja perseroan. “Di semester I ini volume emas sekitar 18,1 ton dengan kontribusi pendapatan Rp 50, 39 triliun atau sekitar 80% dari revenue kami,” ungkap Arinika dalam Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026).
Logam Mulia Antam memegang pangsa pasar domestik lebih dari 60%, didukung oleh kepercayaan konsumen terhadap kualitas dan kemurnian produk serta kredibilitas fasilitas pemurnian emas yang dimiliki. Posisi kuat ini membuka ruang pertumbuhan signifikan, terutama karena emas semakin diminati sebagai instrumen investasi.
Untuk mengantisipasi tren tersebut, Antam tengah mempersiapkan fasilitas manufaktur Logam Mulia di Gresik, Jawa Timur, dengan proyeksi kapasitas 30–40 ton per tahun. “Peningkatan kapasitas ini kami harapkan dapat membuat kemampuan kami menangkap tren permintaan emas domestik yang sekarang sangat signifikan,” ujar Arinika.
Pengembangan fasilitas di Gresik merupakan bagian dari strategi hilirisasi emas Antam, yang bertujuan memperkuat rantai bisnis dari sisi bahan baku hingga produk akhir. Sebelumnya, Antam telah merencanakan pembangunan fasilitas serupa di kawasan JIIPE Gresik untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memanfaatkan pasokan emas dari fasilitas pemurnian Freeport Indonesia.
Emas Makin Dominan dalam Kinerja Antam
Ketergantungan Antam pada bisnis emas terlihat jelas dalam laporan keuangan semester I-2026. Penjualan bersih perseroan mencapai Rp 62,71 triliun, naik 6% secara tahunan, dengan produk emas menyumbang Rp 50,39 triliun atau sekitar 80% dari total penjualan. Volume penjualan emas tercatat sekitar 18,08 ton, sementara produksi emas dari tambang Antam mencapai sekitar 433 kilogram.
Di sisi lain, segmen bisnis nikel mulai menunjukkan kontribusi yang kian besar. Penjualan nikel, yang meliputi bijih nikel dan feronikel, mencapai sekitar Rp 10,41 triliun atau 17% dari total penjualan, meningkat 32% dibandingkan semester I-2025. Secara keseluruhan, Antam mencatat laba periode berjalan sekitar Rp 6,91 triliun pada semester I-2026, tumbuh 34% secara tahunan, dengan EBITDA naik 35% menjadi Rp 9,62 triliun.
Meskipun emas menjadi penyumbang terbesar, Antam tidak hanya mengandalkan komoditas tersebut. Perseroan terus memperkuat rantai nilai nikel sejalan dengan agenda hilirisasi dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Arinika melihat prospek nikel dalam jangka panjang tetap menarik, dengan produksi bijih nikel mencapai sekitar 7,8 juta ton dan volume penjualan sekitar 6,8 juta ton pada semester I-2026.
Antam juga menjalankan sejumlah agenda hilirisasi nikel, termasuk pengembangan fasilitas RKEF dan proyek HPAL serta pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik bersama Indonesia Battery Corporation (IBC). Untuk komoditas bauksit dan alumina, perseroan memperkuat integrasi rantai bisnis melalui fasilitas Chemical Grade Alumina di Tayan dan keterlibatan dalam proyek Smelter Grade Alumina di Mempawah.
Arinika menegaskan bahwa seluruh proyek hilirisasi akan diseleksi berdasarkan keekonomian proyek, tingkat pengembalian, risiko, kebutuhan modal, periode pengembalian investasi, serta potensi penciptaan nilai. “Yang paling penting adalah memastikan pertumbuhan ini dapat diterjemahkan menjadi real value creation dan return yang berkelanjutan bagi pemegang saham,” ujarnya. Strategi Antam ke depan tidak hanya bertumpu pada kenaikan harga komoditas, tetapi juga pada peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi, perluasan kapasitas produk emas, penguatan rantai nilai nikel, serta menjaga disiplin biaya dan modal kerja.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.