Jurnal Indonesia — JAKARTA – PT Astra International Tbk (ASII) memproyeksikan kinerja perusahaan pada paruh kedua tahun 2026 akan menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan semester pertama. Optimisme ini didasarkan pada kembalinya operasional penuh Tambang Emas Martabe dan adanya peningkatan kuota produksi batu bara nasional.
Presiden Direktur Astra International, Rudy, mengakui bahwa semester I 2026 diwarnai berbagai tantangan, baik dari sisi global maupun domestik. Kondisi tersebut berdampak pada fluktuasi nilai tukar, kenaikan harga bahan baku, serta perubahan tingkat suku bunga.
“Kondisi memang cukup menantang, baik global maupun domestik, yang secara tidak langsung mempengaruhi nilai tukar, harga bahan baku, tingkat bunga, dan lain sebagainya,” ujar Rudy dalam acara Public Expose Live 2026 pada Kamis (10/9/2026).
Tekanan tersebut terutama dirasakan pada lini bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat Astra. Minimnya penjualan emas dari Tambang Martabe, serta penurunan volume jasa penambangan dan pertambangan batu bara akibat pembatasan kuota produksi atau alokasi RKAB, turut membebani kinerja segmen ini.
Pada semester I 2026, segmen Solusi Pertambangan dan Alat Berat mencatat laba bersih sebelum pos non-recurring sebesar Rp 2,7 triliun, yang merupakan penurunan 46% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, pendapatan bersih konsolidasian Astra tercatat Rp 157,9 triliun, turun 3% secara tahunan, sementara laba bersih di luar pos non-recurring mencapai Rp 14,9 triliun atau turun 7%. Setelah memperhitungkan pos non-recurring sebesar Rp 2,4 triliun, laba bersih Astra menjadi Rp 12,5 triliun, turun 19%.
Meskipun demikian, Rudy menggarisbawahi adanya tren perbaikan yang mulai terlihat pada kuartal II 2026. Secara kuartalan, underlying profit Astra pada kuartal kedua meningkat 19% dibandingkan kuartal I 2026.
“Kami melihat ada perbaikan tren sepanjang kuartal kedua. Apabila kita analisis kuartal by kuartal, di kuartal kedua sebenarnya underlying profit kami meningkat 19% dibandingkan kuartal pertama,” jelasnya.
Perbaikan ini menjadi salah satu fondasi optimisme Astra. Terlebih, salah satu bisnis yang sebelumnya memberikan tekanan kini mulai kembali beroperasi. Tambang Emas Martabe, yang sempat mengalami suspensi pada kuartal I 2026, telah kembali beroperasi penuh sejak Mei 2026. Dengan kembalinya produksi tambang ini, kontribusi bisnis pertambangan pada semester II diharapkan meningkat.
“Di semester dua ini semua kita tahu tambang Martabe sudah mulai beroperasi di bulan Mei. Jadi harusnya kontribusi semester dua akan lebih baik,” ungkap Rudy.
Selain Martabe, Astra juga menyambut baik adanya peningkatan kuota produksi batu bara. Kenaikan kuota ini diharapkan dapat mendorong pemulihan volume jasa penambangan dan penjualan alat berat, yang pada semester I menjadi salah satu faktor penekan kinerja perseroan.
Dengan sejumlah katalis positif tersebut, Astra berharap tren perbaikan yang mulai terlihat pada kuartal II dapat berlanjut hingga akhir 2026. Rudy menilai bisnis inti Astra, khususnya otomotif dan jasa keuangan, tetap menunjukkan ketahanan. Sementara itu, pemulihan sektor pertambangan diharapkan memberikan kontribusi tambahan yang berarti pada paruh kedua tahun ini.
“Intinya adalah Astra akan resilien bertumbuh dengan nilai jangka panjang berkelanjutan untuk shareholder, dengan harapan bahwa semester II ini akan lebih baik daripada semester I,” pungkasnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.