— Bakti Kementerian Komunikasi dan Digital menyatakan kesiapan menyediakan konektivitas satelit untuk memperkuat program prioritas pemerintah, termasuk Sekolah Rakyat dan Koperasi Desa Merah Putih di kawasan 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Direktur Utama Bakti Komdigi, Fadhillah Mathar, mengatakan infrastruktur yang dikelola lembaganya, terutama Satelit Republik Indonesia 1 (SATRIA 1), menjadi fondasi penting untuk memperluas akses digital di wilayah yang belum terlayani.

“Infrastruktur SATRIA 1 yang saat ini telah menjangkau lebih dari 31 ribu titik layanan memberikan fondasi yang kuat untuk mendukung pengembangan Sekolah Rakyat, digitalisasi layanan pendidikan, serta penguatan ekosistem ekonomi desa termasuk Koperasi Desa Merah Putih, terutama di wilayah yang belum tersedia akses internet yang memadai,” ujar Fadhillah Mathar.

Jangkauan dan Rincian Layanan

Per 5 Juni 2026, Bakti mencatat SATRIA 1 telah menghubungkan 31.803 lokasi dengan konektivitas satelit.

Rinciannya meliputi 21.718 lokasi di sektor pendidikan; 6.353 kantor pemerintahan; 1.880 layanan kesehatan; 528 fasilitas pertahanan dan keamanan; 488 pusat kegiatan masyarakat; serta 437 tempat ibadah. Sisanya, 399 titik, melayani sektor pariwisata, usaha, dan transportasi publik.

Dukungan untuk Program Prioritas

Bakti menyatakan siap mendukung penyediaan konektivitas digital untuk program-program prioritas pemerintah melalui jangkauan SATRIA 1 di wilayah 3T.

Untuk wilayah yang telah didukung infrastruktur oleh penyelenggara telekomunikasi, pengawasan dan penyediaan konektivitas untuk program prioritas ditangani secara khusus oleh Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital.

Target dan Cakupan Program

Program Koperasi Desa Merah Putih merupakan inisiatif yang ditargetkan untuk membangun ekonomi dari desa. Pemerintah menargetkan dapat mengoperasikan sekitar 20.000–30.000 Koperasi Desa Merah Putih pada Agustus 2026.

Sementara itu, Sekolah Rakyat bertujuan menyediakan pendidikan gratis bagi anak-anak dari kelompok ekonomi terendah pada jenjang SD, SMP, dan SMA. Hingga Juni 2026, program ini telah diselenggarakan di 266 titik secara nasional dengan jumlah peserta didik eksisting mencapai 14.913 siswa.