Jurnal Indonesia — JAKARTA – PT Bank Jago Tbk (ARTO) menghadapi tantangan kenaikan biaya dana di tengah kondisi likuiditas perbankan yang semakin ketat. Bank Jago memperkirakan cost of fund (CoF) dapat meningkat hingga kisaran 4% hingga 4,2% pada akhir tahun 2026 jika tren kenaikan biaya dana terus berlanjut.
Secara industri, likuiditas perbankan mengalami pengetatan seiring dengan kenaikan suku bunga acuan. Hal ini memicu persaingan bunga deposito antarbank, yang berdampak pada membengkaknya biaya dana perbankan.
Direktur Bank Jago, Supranoto Prajogo, mengakui bahwa cost of fund perseroan telah meningkat dari 3,5% pada Juni 2026 menjadi 3,8% pada Agustus 2026. “Kalau ini berlanjut, maka kami melihat bahwa hingga akhir tahun cost of fund kami akan bisa meningkat hingga 4-4,2%,” ujar Supranoto dalam acara Public Expose Live 2026 pada Kamis (10/9/2026).
Kenaikan ini terjadi di tengah persaingan penghimpunan dana perbankan yang semakin ketat. Menurut Supranoto, kondisi likuiditas di pasar saat ini memang relatif ketat, sehingga mendorong bank untuk bersaing mendapatkan dana nasabah.
Meskipun demikian, Bank Jago tidak ingin mengandalkan perang suku bunga untuk mempertahankan dana pihak ketiga (DPK). Perseroan menilai persaingan melalui tingkat bunga semata tidak akan menjadi strategi yang berkelanjutan.
“Kami selalu percaya bahwa melakukan persaingan terkait dengan suku bunga ini tidak akan sustainable,” imbuh dia.
Sebagai gantinya, Bank Jago berupaya mempertahankan dana nasabah melalui pengembangan fitur dan layanan yang dinilai relevan dengan kebutuhan transaksi sehari-hari. Strategi ini diharapkan membuat nasabah tetap mempertahankan saldo di Bank Jago, meskipun ada tawaran bunga yang lebih tinggi dari bank lain, selama selisih tingkat bunga tersebut tidak terlalu besar.
Di sisi aset, Bank Jago memiliki ruang untuk merespons kenaikan biaya dana melalui penyesuaian suku bunga kredit. Supranoto menjelaskan bahwa sebagian besar kredit Bank Jago memiliki tenor yang relatif pendek, sehingga repricing dapat dilakukan lebih cepat ketika kondisi suku bunga berubah.
“Adjustment terhadap rate untuk menjawab terkait dengan kenaikan suku bunga tersebut dapat dilakukan dengan lebih cepat. Dengan demikian profitability kami tetap terjaga karena secara margin itu kami dapat jaga dengan baik,” jelasnya.
Tekanan biaya dana ini menjadi perhatian Bank Jago karena perseroan tetap membidik pertumbuhan sekaligus menjaga kualitas aset. Hingga Juni 2026, kredit Bank Jago tercatat tumbuh 24% secara tahunan, sementara aset meningkat 28% menjadi Rp41,4 triliun.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.