Jurnal Indonesia — Bank of Korea (BOK) memperingatkan bahwa pembayaran bonus dalam jumlah besar kepada pekerja sektor teknologi di Korea Selatan berpotensi mendorong tekanan inflasi lebih lanjut. Peringatan itu datang setelah laporan tentang bonus fantastis yang diterima karyawan di perusahaan-perusahaan semikonduktor besar.
Dalam laporan 17 Juni, bank sentral menyatakan inflasi tahun ini sebagian besar dipengaruhi kenaikan harga energi akibat perang di Timur Tengah. Namun BOK menambahkan bahwa perbaikan pendapatan dan meluasnya pertumbuhan upah—termasuk pembayaran bonus yang besar—dapat meningkatkan tekanan inflasi meski konflik global mereda.
Respons Bank Sentral
BOK menyoroti pembayaran bonus kinerja dalam skala besar di beberapa perusahaan teknologi sebagai faktor yang berpotensi menyebar menjadi kenaikan upah lebih luas. Dalam pernyataannya, bank sentral mencatat bahwa jika bonus khusus membengkak secara tidak biasa dan substansial, “pertumbuhan upah tersebut bisa menyebar ke sektor-sektor lain, yang pada akhirnya secara signifikan meningkatkan tekanan inflasi.”
Bank sentral melanjutkan, “Secara khusus, karena bonus kinerja di sektor TI baru-baru ini dibayarkan dalam skala yang sangat luar biasa, kemungkinan bahwa dampak aktualnya bisa lebih besar dari yang diperkirakan tidak dapat dikesampingkan.” BOK juga memperkirakan inflasi setahun penuh mencapai 2,7%, di atas target 2%.
Skema Bonus di Perusahaan Chip
Beberapa perusahaan besar di industri semikonduktor dilaporkan mengalokasikan persentase dari laba operasional untuk bonus pegawai. Salah satu perusahaan menyetujui kesepakatan yang mengalokasikan 10% dari laba operasional sebagai bonus, sementara laporan lain menyebut alokasi 10,5% dari laba unit semikonduktor untuk pembayaran serupa.
Menurut sumber serikat pekerja, seorang pekerja chip memori dengan gaji pokok sekitar 80 juta won diperkirakan menerima total bonus hingga 626 juta won pada tahun ini. Proyeksi lain menyebut karyawan bisa menerima lebih dari 700 juta won jika perusahaan mencapai target laba tahunan tertentu.
Dampak Konsumsi dan Ritel
Sementara bank sentral mengkhawatirkan efek makro, pelaku ritel melaporkan peningkatan penjualan di area-area tertentu. Deputi Gubernur BOK, Lee Jiho, menyebutkan peningkatan signifikan di pusat perbelanjaan seperti Suwon dan area barang mewah di department store yang bisa menyebar lebih luas.
Laporan penjualan menunjukkan lonjakan di beberapa cabang department store di provinsi yang menjadi basis perusahaan-perusahaan chip. Di satu lokasi, penjualan toko naik 19% secara keseluruhan pada Mei; penjualan perhiasan mewah meningkat 146,3% dan jam tangan mewah tumbuh 85,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Potensi Efek Menyebar
BOK mengingatkan bahwa gelombang pembayaran bonus besar berisiko memicu kenaikan upah yang meluas ke sektor lain, yang pada gilirannya dapat memperkuat tekanan inflasi. Pernyataan bank sentral menempatkan sorotan pada hubungan antara remunerasi luar biasa di sektor teknologi dan dinamika inflasi domestik.
Ikuti Jurnal Indonesia
