Jurnal Indonesia — JAKARTA – Realisasi belanja negara telah mencapai Rp 1.969,6 triliun hingga 31 Juli 2026. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 18,62% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan kewaspadaan terhadap potensi permintaan anggaran belanja tambahan (ABT) dari kementerian/lembaga (K/L) menjelang akhir tahun anggaran. Peningkatan permintaan ini dikhawatirkan dapat memberikan tekanan pada defisit fiskal.
Hingga Juli 2026, defisit fiskal tercatat sebesar Rp 235,6 triliun, setara dengan 0,91% terhadap produk domestik bruto (PDB). Pemerintah memproyeksikan defisit pada akhir 2026 akan mencapai Rp 734,3 triliun atau 2,85% terhadap PDB.
“Kami agak deg-degan sebenarnya, sebelumnya minta masih bisa dikendalikan. Takutnya adalah, kalau kementerian/lembaga tahu kita baru defisit 0,91%. Sebentar lagi kami akan menerima ABT besar-besaran,” ujar Purbaya dalam acara pelantikan eselon 2 dan 3 di kantor Kementerian Keuangan, Kamis (10/9/2026).
Purbaya menegaskan bahwa Kementerian Keuangan telah memperhitungkan kondisi defisit secara matang. Ia menilai posisi fiskal hingga saat ini masih berada dalam jalur yang telah direncanakan pemerintah.
“Dengan angka sekarang pun, defisitnya mungkin di sekitar 2,85% dari PDB seperti yang kita rencanakan. Tapi angka ini menunjukkan bahwa kita berusaha membuat fiskal lebih aktif tanpa meninggalkan kehati-hatian,” terangnya.
Selain belanja pemerintah pusat, Kementerian Keuangan juga melakukan penyesuaian alokasi transfer ke daerah. Pada Agustus 2026, pemerintah menyalurkan tambahan anggaran transfer ke daerah sebesar Rp 20,5 triliun untuk daerah yang menghadapi kesulitan fiskal.
Tambahan transfer ini terutama ditujukan bagi daerah yang mengalami kesulitan dalam membayar gaji pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Kebijakan tersebut diambil setelah Kementerian Keuangan menerima masukan dari pemerintah daerah.
“Kami juga melakukan penyesuaian transfer ke daerah, setelah mendengarkan masukan dari daerah,” jelas Purbaya.
Menurut Purbaya, penyaluran belanja negara yang merata memberikan dampak positif terhadap laju perekonomian. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat mencapai 5,4%.
Pertumbuhan ekonomi pada semester I-2026 sendiri telah mencapai 5,45%. Pemerintah terus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi agar dapat berada pada tingkat yang lebih tinggi.
“Kami ingin mendorongnya ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Masih ada proses bisnis yang harus diperbaiki, pelayanan yang harus dipercepat, penerimaan yang harus diperkuat, dan kualitas belanja yang harus terus ditingkatkan. Oleh karena itu kita tidak boleh merasa cukup dengan apa yang kita capai,” pungkas Purbaya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.