Jurnal Indonesia — Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan dan turun ke level US$ 78.000 pada perdagangan Rabu pagi. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak dunia yang menimbulkan kekhawatiran terhadap inflasi dan prospek suku bunga Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 07.10 WIB, harga Bitcoin (BTC) hari ini terkoreksi 0,61% menjadi US$ 78.603,7 per koin. Kapitalisasi pasar kripto global juga terpantau turun 0,43% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 2,68 triliun. Sementara itu, Indeks CoinDesk 20 yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar melemah 0,3%. Di sisi lain, harga Ethereum (ETH) tercatat naik 0,1% menjadi US$ 2.491 dan Binance Coin (BNB) melonjak 1,93% ke US$ 753.
Pelemahan Bitcoin terjadi ketika aset berisiko menghadapi tekanan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dunia melonjak. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat tekanan inflasi dan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed.
Analis kripto Rekt Capital menyoroti area US$ 78.300 sebagai level penting yang perlu diperhatikan. Menurutnya, pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan kemiripan dengan pola yang terjadi pada Mei lalu. Kala itu, Bitcoin gagal mempertahankan penembusan level penting, sempat mencapai sekitar US$ 82.800 sebelum berbalik melemah dan berkonsolidasi di sekitar US$ 78.300. Setelah itu, Bitcoin kembali mengalami tekanan hingga mencapai titik terendah makro sekitar US$ 57.000.
Dengan kondisi saat ini, Rekt Capital menilai Bitcoin kembali menguji area US$ 78.300. Jika level tersebut gagal dipertahankan, risiko terbentuknya lower high baru akan semakin besar.
Harga Minyak Jadi Perhatian
Pergerakan Bitcoin juga berlangsung di tengah lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak menuju US$ 95 per barel, sedangkan Brent mendekati US$ 100 per barel.
Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan serangan terhadap sejumlah fasilitas energi di Arab Saudi. Gangguan terhadap pasokan energi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi global.
Bagi pasar kripto, kenaikan harga energi menjadi perhatian karena dapat meningkatkan ekspektasi inflasi AS. Jika tekanan inflasi kembali menguat, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter dapat semakin terbatas.
Pasar saat ini juga tengah menunggu data inflasi AS, terutama indeks harga konsumen (CPI), yang dijadwalkan rilis pada Jumat. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi pasar dalam memperkirakan arah kebijakan The Fed berikutnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.