Jurnal Indonesia — Harga Bitcoin (BTC) pada perdagangan Kamis (10/9/2026) pagi mengalami koreksi. Penguatan yen Jepang, lonjakan harga minyak, serta meningkatnya risiko unwinding yen carry trade menjadi tekanan baru bagi aset kripto.
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 07.55 WIB, harga Bitcoin (BTC) terkoreksi 0,79% menjadi US$ 78.114,05 per koin, setara sekitar Rp 1,36 miliar dengan kurs saat ini di Rp 17.501 per dolar AS.
Kapitalisasi pasar kripto global juga turun 0,93% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 2,66 triliun. Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar jatuh 1%. Harga Ethereum (ETH) anjlok 1,2% menjadi US$ 2.466 dan Binance Coin (BNB) ambrol parah 4,5% ke US$ 721.
Tekanan terhadap Bitcoin semakin kuat setelah yen Jepang melanjutkan penguatan terhadap dolar AS. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap unwinding yen carry trade, yakni strategi investor meminjam dana dalam yen berbunga rendah untuk kemudian ditempatkan pada aset dengan potensi imbal hasil lebih tinggi.
Yen kini berada di sekitar 153 per dolar AS dan telah menguat tajam sejak awal September. Penguatan tersebut terjadi di tengah ekspektasi Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga serta sinyal dukungan pemerintah AS terhadap penguatan yen.
Chief Investment Strategist Saxo, Charu Chanana, mengatakan, penguatan yen dapat memberikan tekanan terhadap posisi short yen yang masih besar dan mempercepat proses unwinding carry trade. Menurut dia, sebagian posisi short yen memang sudah ditutup. Namun, posisi yang tersisa masih cukup besar sehingga penguatan yen lebih lanjut berpotensi mengubah proses pengurangan leverage secara bertahap menjadi unwinding yang lebih cepat dan saling memperkuat.
Kondisi tersebut penting bagi pasar kripto karena USD/JPY menjadi salah satu indikator kondisi likuiditas global yang dapat memengaruhi aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Tekanan terhadap posisi short yen juga meningkat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent kembali memberi sinyal bahwa intervensi di pasar valuta asing masih mungkin dilakukan. Bessent bahkan mengatakan dirinya memiliki informasi yang tidak simetris terkait langkah Bank of Japan dan pembuat kebijakan Jepang dalam melakukan intervensi mata uang.
Pernyataan tersebut memperkuat spekulasi bahwa Washington dan Tokyo dapat kembali mengambil langkah untuk mendukung yen. Pasar kemudian semakin berhati-hati terhadap posisi short yen yang sebelumnya menumpuk.
Data yang dikutip dari Bloomberg menunjukkan posisi short yen pada awal September berada di atas 5 triliun yen. Sementara itu, pasar juga memperkirakan BOJ dapat menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 28 September.
Penguatan yen yang berlangsung cepat menjadi perhatian karena unwinding carry trade dapat memaksa investor mengurangi posisi pada aset berisiko untuk menutup leverage.
Situasi tersebut pernah mengguncang pasar global pada 2024 ketika penguatan yen memicu pelepasan posisi carry trade secara besar-besaran. Kali ini, investor kembali mencermati risiko serupa seiring yen menguat tajam dan ekspektasi pengetatan kebijakan BOJ meningkat.
Selain yen, Bitcoin juga menghadapi tekanan dari lonjakan harga minyak dunia. Eskalasi konflik AS-Iran mendorong harga minyak mentah menembus level penting.
Harga Brent kembali berada di atas US$ 100 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) bergerak di atas US$ 96 per barel. Kenaikan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan menekan sentimen terhadap aset berisiko. Kombinasi minyak yang mahal, yen yang menguat, serta potensi unwinding carry trade membuat ruang gerak Bitcoin semakin terbatas.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.